Karo Tampil Beda Di — Sorasirulo
Sorasirulo

Karo Tampil Beda Di

Budaya ·
Karo Tampil Beda Di

M.U. GINTING. STOCKHOLM. Akhir Pekan lalu , ada Pasar Malam Indonesia di Stockholm yang diadakan oleh organisasi ‘Perkumpulan Swedia-Indonesia’ (SIS – Swedish Indonesian Society). Acara ini memang diadakan setiap tahun oleh organisasi ini dalam rangka memperkenalkan Indonesia, kultur dan budayanya ke masyarakat Swedia dan internasional. Tema kali ini adalah ’Sumatra’ dengan pertunjukan berbagai budaya dan kultur dari Sumatra.

Perkumpulan Indonesia di Gotenburg mementaaskan tarian budaya Karo Maba Kampil dan Patam-patam dibawakan oleh penari-penari Perkumpulan Indonesia di Gotenburg yaitu Andita Therning dan Maya Puspita serta dilengkapi juga oleh Roza Arnevill dan Wendy Arnevill Ginting. // Pakaian tradisional Karo merupakan yang baru dalam Pasar Malam SIS ini, begitu bersemarak dengan warna-warni merahnya sehingga sangat indah dipandang mata dan sangat membikin hadirin gembira dan sekaligus juga bangga dengan kekayaan berbagai pakaian-pakaian tradisi budaya Bhinneka Tunggal Ika negeri Indonesia ini. Tari Piring dari Minangkabau.[/caption] Tarian Karo dengan lagu Maba Kampil begitu lemah lembut mempesona, dan kemudian disambung dengan Patam-patam dan mengikutkan hadirin yang diundang ke atas panggung. Suasana jadi sangat bersemarak, seperti tari rakyat di acara Guro-guro Aron Karo. Tidak heran kalau pada akhir lagu kemudian disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah dari semua hadirin. Dalam ’tema Sumatra’ kali ini selain Karo dan Batak tampak juga diperlihatkan dari Minang, Aceh/Gayo, dan Melayu Riau. Di sini terlihat bahwa masyarakat Indonesia di Swedia telah terbiasa melihat Karo dan Batak sebagai dua suku bangsa Indonesia yang berbeda. Foto-foto adalah koleksi Svensk-Indonesiska Sällskapet //