Kartini Karo Yang Kisah — Sorasirulo
Sorasirulo

Kartini Karo Yang Kisah

Budaya ·
Oleh: Juara R. Ginting (Leiden) Mungkin salah, mungkin benar. Tiba-tiba saya teringat komen turang Cahaya Purba mengenai Cerpen: KARTINI MEMBELA DIRI karya Ita Apulina Tarigan yang mengingatkanku pada sebuah kisah nyata di masa kolonial di Dataran Tinggi Karo.

Katanya: "Kisah ini persis seperti kisah Nenek Ribuku yang dipaksa kawin sama Nini Bayakku. Cuma, Bayakku dulu tidak mempan pisau. Jadi, Nenek Ribuku bisa hamil dan melahirkan 2 anak lagi. Setelah bapakku lahir berusia 7 bulan, barulah bayakku pindah alam dalam usia hampir 80 tahun. Selamat Hari Kartini wahai para wanita Karo."

Dari tadi saya tidak kepikiran. Baru saja saya teringat. Cerpen itu ternyata dimodifikasi dari kisah nyata yang dituturkan oleh bengkila Payung Bangun (Pa Berontak) kepada saya semasa hidupnya.

"Bukan main-main. Bibi saya masih berusia 11 tahun diikat tangannya ke gereta lembu dan ditarik dari Batukarang ke Kabanjahe. Tanda kalah perang, kata Pa Pelita. Lalu, di pesta perkawinan mereka, ditabuh gendang dan pihak pengantin perempuan dipaksa menari dengan cara menyembah ke pihak pengantin pria. Adat pun diobok-obok dengan pernyataan kalah perang padahal kemenangannya dalam perang itu atas bantuan militer Belanda,” tutur Pa Berontak dengan wajah yang, siapa saja yang mengenal Pa Berontak akan mengetahui bagaimana dia bisa lebih garang dan berwibawa daripada Soekarno, kalau sudah ngomong mengenai sejarah perjuangan.

Sangat tidak mengherankan bila Revolusi Sosial berdarah di Sumatera Timur diawali di Batukarang (sebuah kampung di Dataran Tinggi Karo) dan dipimpin oleh putra tertua dari Pa Garamata, yaitu Koda Bangun, orang Karo pertama yang masuk Gerindo (Gerakan Indonesia). Perempuan berusia 11 tahun yang dinikahi Pa Pelita itu adalah putri dari Garamata, saudari dari Koda Bangun.

Jangan lupa, Garamata sempat berjuang di Perkebunan milik putra Jansen di Senembah. Dari Senembah jugalah munculnya Tan Malaka yang bekerja sebagai guru di sana. Di sana jugalah Koda Bangun belajar Komunisme. Di sana juga, khususnya di Talapeta, Payung Bangun mendapat pendidikan militer dari Inoi (orang Jepang) yang mengembangkan pertanian Sistim Shogun di Talapeta.

Inoi masih sempat bersembunyi di hutan Sinabung (Lau Kawar) setelah Kemerdekaan RI dengan mendapat perlindungan dari bekas murid-muridnya yang tergabung dalam Barisan Harimau Liar (BHL).

(Jansen dan Nienhuis adalah 2 orang Belanda yang terdampar di Deli dan kemudian memulai perkebunan tembakau di Labuhan Deli)

Salah seorang yang biasa masuk menemui Inoi di dalam hutan adalah guru saya dalam filsafat dan kosmologi Karo. Dialah yang bercerita padaku bagaimana Inoi, sebagai seorang Shogun, bisa meloncat ke sana ke mari seperti Tarzan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Inoi sempat menjadi mitos di sekitar Gunung Sinabung. Ibu saya yang berasal dari kaki Gunung Sinabung (Berastepu) pernah cerita pada saya sewaktu kecil. Katanya, Inoi bisa berjalan kaki di atas Danau Lau Kawar.

Antara sejarah dan mitos yang dirangkai oleh Ita Apulina Tarigan menjadi sebuah karya sastra yang mencekam dan menarik sekali.

Mengharukan! Selamat Hari Kartini, nak we ! // //