Kearifan Orang Rimba: Menjaga Madu Pohon
Orang Rimba atau yang dikenal juga sebagai Suku Anak Dalam adalah perimba sejati di Dataran Jambi. Beratus tahun Orang Rimba mengembara menjaga territorial adat mereka. Mengambil hasil buruan hanya jika diperlukan. Memetik buah dan bunga hanya secukupnya. Menangkap ikan seadanya. Dan menjaga sisanya. Orang Rimba mengelompokkan dirinya dalam kelompok atau rombong . Setiap rombong dipimpin oleh seorang kepala rombong yang disebut Tumenggung. Satu rombong biasanya terdiri dari beberapa kepala keluarga. Perempuan mendapatkan tempat terhormat di tatanan masyarakat Orang Rimba dan memenggang kekuasan terbesar dalam pengalokasian sumber daya, baik yang berupa makanan maupun harta benda. Saat hutan Jambi sudah berubah menjadi perkebunan dan pemukiman, mungkin hanya di Taman Nasional Bukit Dua Belas kita masih bisa menemui kelompok Orang Rimba yang menjalankan adat mereka. Taman Nasional Bukit Dua Belas terletak di 4 kabupaten Provinsi Jambi; Batanghari, Sarolangun, Bungo Tebo, dan Merangin.
Salah satu hasil hutan yang sangat berharga bagi Orang Rimba adalah madu hutan. Lebah madu biasanya menempati pohon-pohon yang tinggi dan besar yang disukai oleh lebah untuk membuat sarang yang dinamakan oleh Orang Rimba pohon sialang. Pohon sialang adalah sebutan bagi pohon tinggi besar tempat hunian puluhan lebah, seperti misalnya pohon kedondong yang telah berusia puluhan tahun. Orang Rimba yang menemukan pohon sialang bisa menjadikan pohon itu sebagai miliknya, dan karena Orang Rimba yang lain tidak akan ada yang berani mengambil tanpa ijin si pemilik. Denda adat hukumannya. Pada saat panen madu, Orang Rimba akan memanjat pohon sialang dengan menggunakan pijakan kayu yang ditancapkan ke pohon sebagai tangga (dalam bahasa Karo disebut pating , red.). Sebelum melakukan panen madu, ada mantra-mantra yang harus diucapkan oleh Orang Rimba agar panen madu berjalan lancar.