Kebaktian Minggu Gbkp Jambi Diawali 'indonesia
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Setiap orang berhak menikmati kemerdekaan negeri ini dengan kesetaraan sebagai warga negara. Tak pandang bulu, tidak membedakan kelas masyarakat, apakah mereka tinggal di kota ataupun di desa bahkan dusun terpencil sekalipun. Semuanya (seharusnya) sama di bawah 'kibaran sang merah putih' dan semuanya harus berpandangan yang sama ke arah kibaran bendera itu dengan semangat patriotis dan nasionalis.
Hampir saja saya berkesimpulan bahwa di wilayah kami ini tidak akan ada selebrasi kemerdekaan republik ini. Jauh dari peredaran dan keriuhan kota di pedalaman Provinsi Jambi, seolah-olah membuat penghuni wilayah ini menjadi 'anak tiri' di negerinya sendiri.
Bagaimana tidak, betapa memperihatinkannya kondisi tanpa sambungan listrik, prasarana jalan yang tanpa perhatian, bahkah signal telepon seluler yang sangat terbatas. Ditambah lagi dengan kondisi perekonomian setempat yang semakin memprihatinkan. Harga buah kelapa sawit yang dibayarkan kepada petani anjlok hingga' Rp. 500/ Kg, harga getah karet menukik sampai Rp. 3.000/ Kg. Pembagian hadiah untuk para pemenang lomba[/caption] Melihat kondisi itu, rasanya manalah mungkin mengingat perayaan kemerdekaan negara, sementara belum merdeka dalam ekonomi. Inilah realita salah satu wilayah pelosok negeri ini di ulang tahun kemerdekaannya yang ke 70.
Suasana yang terlihat dalam kegiatan ini sarat dengan kekeluargaan. Semuanya adalah anggota komunitas PPJ. Tak hanya anggota, beberapa warga sekitar yang bukan anggota PPJ juga turut hadir, tapi tidak terasing. Saya sendiri yang cukup jarang bersosialisasi dengan mereka sekalipun tetap disapa dengan hangat dan dipersilahkan masuk ke Langgar Mushola ketika sedang acara pembagian hadiah pemenang lomba. Sungguh, saya diterima sebagai sesama warga negara di tempat itu. Terlebih-lebih sebagai seorang calon Pendeta yang datang menghadiri kegiatan di Mushola. Begitu juga dengan warga yang berkumpul dengan latar belakang multi-etnis (Melayu Jambi, Jawa, Batak dan Karo) yang dipersatukan dalam semangat kemerdekaan. Dilihat sepintas, perayaan kemerdekaan ini biasa-biasa saja. Tapi Anda akan berubah pikiran bahkan berbangga ketika melihat secara langsung apa, bagaimana dan dimana kegiatan ini dilakukan. Bagi mereka yang sudah dimanjakan dengan modernisasi serta era teknologi yang maju, mungkin lomba panjat pinang hanyalah kemeriahan satu hari yang besok bisa dilupakan begitu saja. Namun, bagi orang-orang yang mengadu nasib serta rela menjalani hidup yang hampir terisolir dari perkembangan informasi, tentu berbeda pula.
Dari Tanah Pusako Betuah, Jambi, mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70. // //