Kekerasan
Sebuah akun gadis cantik di jejaring sosial facebook belakangan tanpa sengaja menjadi pengamatan saya. Setiap pagi, akun tersebut up-date status dan upload by cheap4all" href="#98633247"> foto wajahnya yang cantik dan ceria.
by cheap4all" href="#98633247">
by cheap4all" href="#98633247">Status-statusnya sedikit sombong dan menempatkan dirinya sebagai seorang perempuan yang paling beruntung di dunia ini karena memiliki kehidupan yang sempurna dengan pacar yang tampan, baik dan setia. Pujian dan sanjungan yang berlebihan tak jarang dilontarkan kepada pasangannya.
by cheap4all" href="#98633247">Demikianlah yang saya baca dari rangkaian kata-kata pada statusnya.
by cheap4all" href="#98633247">Namun, dengan berlalunya hari, status dan foto yang diupload pun berubah drastis. Dari kebahagian dan keceriaan berubah menjadi galau, sial, dlsb. Sanjungan pun berubah menjadi hujatan yang lebih tajam dari mata pisau. Pokoknya semua hal-hal yang buruk. Ini dilakukannya berulang-ulang.
by cheap4all" href="#98633247">Saya tidak mau berasumsi apa yang terjadi terhadap pemilik akun tersebut. Tetapi, saya yakin pasti hal-hal demikian sering terjadi terhadap masyarakat di sekitar kita. Ini kemudian mengingatkan saya kepada sosok Dianne Schwartz seorang mantan miss Arizona yang pernah menjadi korban kekerasan domestik.
by cheap4all" href="#98633247">Bertahun-tahun hidup dalam rasa bersalah dan merasa patut untuk diperlakukan buruk. Namun, kemudian bangkit dan melalui bukunya Whose Face is in the Mirror menginspirasi banyak perempuan di dunia ini yang kemudian membuka mata dunia bahwa kekerasan kapan dan dimana saja serta kepada siapa saja dapat terjadi.
by cheap4all" href="#98633247">Berbicara tentang kekesaran domestik, saya sependapat dengan komentar yang disampaikan Ita Apulina beru Tarigan di JMS (Jamburta Merga Silima ): bahwa kekerasan domestik adalah seperti sebuah gunung es. Karena korbannya tidak akan mau berbicara sebab tekanan nilai-nilai masyarakat yang dianut.
Sebab hanya korbanlah satu-satunya orang yang sanggup mematahkan rantai kekerasan domestik ini. Namun, untuk sampai di sana, jarang sikorban memiliki keberanian dan by cheap4all" href="#63244448"> energi yang cukup untuk melawan. Oleh sebab itu, sebagaimana disampaikan dalam komentarnya Ita Apulina Tarigan, bahwa peran dan dukungan orangtua menjadi ujung tombak untuk memutus mata rantai kekerasan domestik dan tentunya dukungan dari orang sekitar. //