Kembali Ke Bupati Karo
Secara undang-undang jika memenuhi syarat oke saja. Siapa mendapat suara terbanyak jadi bupati, syah-syah saja. Bahkan hal ini menghemat biaya dibandingkan jika ada putara-putaran ke dua, dst.
Lebih penting lagi adalah, sejak pencalonan jadi bupati, hendaknya diseleksi dengan ketat. Sejak dari awal dengan standar kualitas yang baik sehingga siapa saja yang memperoleh suara terbanyak sungguh layak jadi bupati. Jika tidak layak jadi bupati, dari awal sudah didiskualifikasi, hendaknya. Pertanyaan di hati saya, mengapa kita tidak menemukan calon pemimpin di Karo yang fenomenal? Apakah memang belum dilahirkan yang fenomenal oleh Tuhan? Atau yang ada saja sudah cukup kualitasnya? Atau tidak adanya suatu sistem kaderisasi kepemimpinan di Karo?