Kisah Bersambung: Ginting Manik Mergana
Sedih, kesal, marah dan juga penyesalan melingkupinya. Dia terus berteriak meminta tolong. Tetap tak ada yang mendengar.
Di samping jasat perempuan muda itu juga tergeletak tubuh seorang laki-laki yang cukup dia kenal. Bersimbah darah, namun masih bernyawa. Dengan spontan Ginting Manik mergana mencabut tumbuk lada nya dan membenamkannya ke bagia perut tubuh lelaki itu sedalam mungkin, hingga maut pun menjemputnya. Dengan tangan yang berlumuran darah, Ginting Manik mergana mengangkat jasat turang nya ke atas pangkuannya. Dia memeluknya semakin erat. Air mata berderai semakin kencang. Serombongan Veld Politie (polisi lapangan) melintas dan melihatnya dengan sepasang jasat tak bernyawa dengan berlumuran darah. Polisi itupun kemudian menangkapnya dan menyeretnya memisahkan dirinya dari jasat turang nya. Ginting Manik meronta dan melawan. Dia ingin terus bersama jasat turang nya, tetapi para polisi itu terus memaksa dan menyeretnya. Ginting Manik mergana mendengar ada suara yang begitu dia kenal, memanggilnya. Katanya, "Mama. Medakken. Medakken. " Sambung Malem, "Nggo nandangi seh kita, Mama. Ersikap kam ." Lama kemudian Ginting Manik baru benar-benar tersadar. Lalu bangkit dan melihat hari sudah terang. BERSAMBUNG Sebelumnya: Malam di Singapura // //