Kisah Bersambung: Ginting Manik Mergana
* * * * Keesokan harinya, saat kondisi Ginting Manik sudah mulai membaik, sahabat yang juga petugas penjara datang menemuinya. Karena saat ini tentara Belanda sudah terdesak, maka segala kegiatan kepenjaraan sepenuhnya dipegang oleh pegawai sipil, tidak lagi oleh militer. Militer hanya sebagai penjaga. “Ginting, kenapa kamu melakukan ini?” tanyanya kepada Ginting Manik. Lagi katanya: “Kamu tahu, kan, kalau ini dapat membahayakan kamu. Kamu bisa ditembak mati. Saya hanya bisa melindungimu sampai di sini. Selanjutnya, itu sudah di luar kewenangan saya.” Ginting Manik hanya membisu. Sepertinya rasa sakitnya belum benar-benar hilang. “Kamu tetap akan dikirim. Gelombang ke dua akan segera diberangkatkan. Tinggal tunggu kapal, jika kapal tiba dan cuaca baik, maka kapal tidak akan singgah lama di dermaga.” Mendengar hal itu, Ginting Manik terkejut. Namun tubuhnya tidak sanggup merespon, karena rasa perih akibat cabai masih sangat terasa. Sahabat itu pun kemudian pergi. Namun sejenak langkahnya terhenti dan membalikkan badannya kembali menoleh ke arah Ginting Manik mergana. “Kapal akan singgah di Singapura sebentar,” katanya dan dia pun berlalu. Februari 1941. Pusat operasional Jepang berhasil didirikan di Bangkok (Siam). Ini adalah langkah awal dalam program PFBI (Plan for Burma’s Independence ) dan untuk kelancaran komunikasi antara Minami Kikan dengan Thakin di Burma. Tentunya hal ini menjadi ancaman serius bagi Inggris dan kelangsungan kolonial Belanda di Asia Tenggara. 27 Desember 1941, Kolonel Suzuki membentuk Burma Independence Army (BIA) di Bangkok yang dibentuk dari Minami Kikan (Minami Intelegence Organization ) yang sebelumnya telah terbentuk dan masyarakat Burma yang tinggal di Bangkok. Mereka-mereka ini dipersiapkan untuk di kemudian hari membantu Jepang dalam penaklukan Inggris di kawasan Burma. Perang besar sepertinya tidak bisa dielakkan lagi. Untuk itu, Ingris harus benar-benar didukung dalam pertempuran ini. Agar ambisi Jepang tidak sampai meluas ke Hindia Belanda. Des ember 1941, Ginting Manik pun dengan rombongan lainnya diangkut menuju Singapura. Dari sana kemudian akan menuju Burma melalui jalur darat. Demikian sekenario yang direncanakan. Mengingat cuaca di bulan itu kurang bersahabat dengan dunia pelayaran, ditambah armada laut Jepang yang tiba-tiba bisa menyerang. Dia atas kapal yang membawanya berlayar ke Singapura, Ginting Manik berharap suratnya ke Sumatera Timur yang sebelumnya telah dikirim, sampai di tangan para sahabatnya. Skenario ini harus berhasil. Karena ini jalan satu-satunya dia dapat kembali ke Sumatera Timur. Sementara itu, di Sumatera Timur situasi kepanikan akan Jepang semakin mendekat juga terasa. Bagi para sahabat Ginting Manik ini situasi yang sangat menguntungkan untuk menjalankan operasi pembebasan Ginting Manik mergana di Singapura. Berkedok pedagang, beberapa simbisa berlayar ke Singapura yang dimotori oleh kongsi dagang Poetra Karo – Deli, kini dipimpin oleh Hamidah istri almarhum Amir sahabat baiknya Ginting Manik. Di Singapura, mereka telah bersiap menanti kedatangan kapal yang membawa Ginting Manik. 8 Desember 1941, Jepang berhasil mendaratkan pasukannya di Kota Bharu, Kelantan dan berhasil menenggelamkan HMS Repulse dan HMS Prince of Wales dua hari kemudian. 31 Januari 1942 Jepang berhasil menguasai Malaya dan memukul mundur Inggris hingga Singapura. Target Jepang berikutnya adalah Singapura. Hal ini menguntungkan bagi Ginting Manik, karena mereka tertahan di Singapura, apalagi sebagian besar pasukan Inggris di Semenanjung Malaya sekarang tekepung di Singapura. Setelah Malaya berhasil ditaklukkan, Jepang melancarkan serangan menuju ke Singapura. Hal ini membuat Ginting Manik dan rombongan lainnya harus terlibat dalam perang melawan Jepang. Dalam situasi yang tak terkendali, para sahabat yang telah bersiap sebelumnya menunggu di Singapura akhirnya dapat bertemu dengan Ginting Manik. Dengan bantuan sahabat di Singapura dan tentara Inggris dari India yang membelot, mereka pun berusaha meninggalkan Singapura sebelum situasi itu berubah. Menumpang kapal barang yang biasa mengangkut komoditi Sumatera Timur ke Singapura, juga tentunya barang milik kongsi dagang Poetra Karo – Deli, Ginting Manik dan kawan-kawan akhirnya berhasil menaiki kapal dan berlayar meninggalkan Singapura 15 Februari 1942 Singapura pun berhasil dikuasai oleh Jepang ditandai dengan menyerahnya Letjen Arthur Ernest Percival dan tentara Britania Raya kepada pihak Jepang yang dipimpin Jenderal Yamashita Tomoyaki. Hal ini mengakibatkan sekitar 130.000 tentara Britania Raya, India, dan Australia menjadi tahanan perang. Sejenak Ginting Manik mergana dapat bernafas sedikit lega. Tinggal menunggu apa yang akan terjadi di Sumatera Timur. Dia sudah tidak sabar untuk dapat bertemu anak dan istri, serta keluarga dan sahabatnya. Khususnya anak keduanya yang belum sempat dilihat olehnya. Bersambung