Kisber: Ginting Manik Mergana (14)
Sengaja mereka berlari ke arah sungai yang berlawanan dengan arah para simbisa yang mengangkut peti lainnya, agar serdadu Sekutu terfokus untuk mengejar mereka. Hentakan langkah berlari dan dentuman senapan pun mulai terdengar. Semakin lama semakin mendekat ke arah Ginting Manik mergana . “Taarr....!” suara senapan. Ginting Manik terjungkal. Terasa darah segar mulai mengalir dari bagian kakinya. “Kena kam, Mama ?” “Enté kéna kiamken, ” suruh Ginting Manik mergana . Malem dan Tuah pun kemudian mengangkat Ginting Manik mergana dan memapahnya sambil berlari. Rentetan bunyi senapan semakin sering terdengar. Sesekali Ginting Manik dan teman-temannya membalas. Giliran Safi’i dan Sangab yang terjungkal. “Pergi-pergi! Cepat lari, ” kata Safi’i kepada lainnya. “Enté kéna. Kami kari banci cabuni bas ranggasen oh, ” kata Sangab juga kepada lainnya. Malem pun menyerahkan senapan dan sekin (parang)-nya kepada Safi’i dan Sangab. Katanya kepada mereka: “Inget! Ola pedah kéna ngelawan adi la perlu. Kiamken, ku ranggasen oh kena cabuni. Ugapa pé adi sinik saja kéna labo tereteh, sabab ugapa pé serdadu-serdadu oh ngayaki kami. Mé ‘nggo !” Sangab dan Safi’i pun merangkak ke arah semak belukar, sedangkan Ginting Manik mergana yang dipapah oleh Malem dan Tuah serta dua simbisa lainnya berlari semakin mendekat ke sungai. “Andiko! ” teriak Ginting Manik. “Kenakai, Ma ?” tanya Malem. “Kena kuakap pahaku é, beberé. ” Tuah pun kemudian mengangkat Ginting Manik mergana ke punggungnya dan berlari sekuat tenagannya. Sesampainya di pinggir sungai mereka pun terjun ke dinginnya air sungai tersebut dan berenang mengikuti derasnya aliran sungai. “Enggo. Enggo bias. Seh jenda saja kita, ” kata Ginting Manik kepada lainnya. Merekapun menyeberang dan menepi, kemudian keluar dari sungai dan berjalan menuju arah hulu sungai berlawanan dengan arah aliran sungai tersebut. Dari seberang, mereka tak henti-henti mendengar suara letusan senjata. Temponya semakin cepat, sepertinya terjadi kontak senjata yang membuat mereka menjadi tidak tenang akan keberadaan kedua sahabat mereka. Sementara itu serdadu-serdadu mulai disebar menyusuri aliran sungai dan beberapa sudah menanti di bagian hilir, karena mereka sangat yakin sekali Ginting Manik dan lainnya berenang mengikuti aliran sungai tersebut. Namun, sebaliknya, sehingga mereka tidak dapat menemukan Ginting Manik mergana dan teman-temannya. Pencarian yang dilakukan serdadu-serdadu itu membuat posisi Safi’i dan Sangab semakin terdesak. Merasa tersudut, serta untuk mengulur waktu dan memecah konsentrasi serdadu yang melakukan pengejaran, agar memberi ruang dan waktu bagi Ginting Manik dan lainnya berlari, Safi’i dan Malem kemudian melakukan perlawanan sekuat mereka hingga saat keesokan harinya di siang hari, berita tewasnya dua pencuri tersebar. Hingga sore keesokan harinya, keberadaan Ginting Manik dan rombongannya belum juga diketahui. Namun, rombongan lainnya yang berhasil membawa beberapa peti berisikan senjata dan amunisi tiba dengan selamat di tempat simbisa yang bergrilya berkumpul. Ginting Manik terluka parah akibat tembakan yang mengenai lutut dan bagian pahanya. Tidak tanggung-tanggung, 10 butir timah panas bersarang di tubuhnya. Pendarahan hebat terjadi. Namun, jika dibawa ke kuta , tentara Belanda akan menangkapnya. Maka untuk sementara diapun disembunyikan di sebuah gua di perjuman pinggir kuta , hingga keadaannya semakin membaik. Putri kecilnya beru Ginting Manik setiap hari menghantarkan makanan baginya. Malem setia terus menjaga dan menemaninya. Kondisinya semakin parah. Sering dia tidak sadarkan diri dan mengigau. Luka akibat peluru dan dinginnya air sungai sepertinya mengakibatkan kondisi fisiknya melemah. Teman-teman dan bos Eropanya mulai menanyakan keberadaanya yang sudah seminggu tidak masuk kerja. Segala alasan disampaikan beru Sembiring Meliala, istri barunya. Namun sampai kapan? Kecurigaan pun mulai muncul, kalau Ginting Manik terlibat dalam pencurian peti senjata dan amunisi di gudang. Sehingga, dia pun masuk dalam daftar pencarian, dengan tuduhan pencurian dan pemberontakan. Menghindari hal yang lebih buruk terjadi, kebutuhan Ginting Manik dari kuta harus dihentikan, agar keberadaannya tidak diketahui.