Kolom Alexander F. Meliala: Karo Festival
Seperti yang diceritakan oleh antropolog Karo, Juara R. Ginting, melalui kolomnya pada Oktober 2013 lalu di Sorasirulo.com , sebelum pelaksanaan Guro-guro Aron di Lapangan Merdeka kala itu, ratusan warga Karo, khususnya para aron , terlebih dahulu melakoni kegiatan ngerintak lige-lige dari Padangbulan ke Lapangan Merdeka.
Juara menambahkan, lige-lige adalah kenderaan kebesaran Karo berbentuk mirip rumah si empat ayo bertingkat-tingkat terbuat dari kayu, beratap ijuk dan dilengkapi dengan beberapa roda kayu. Kenderaan bergerak ketika ditarik dengan tali secara beramai-ramai. Kebesaran lige-lige sedikit lebih rendah dari kalimbaban yang bentuknya mirip lige-lige tapi jumlah tingkatannya lebih banyak.
Dari gambaran semangat warga Karo tempo dulu melaksanakan kegiatan Guro-guro Aron di Lapangan Merdeka, tentu menjadi kerinduan tersendiri bagi warga Suku Karo. Setelah era tahun 1960an itu hingga kini Karo tidak pernah lagi melaksanakan kegiatan-kegiatan serupa di tempat ini. Kantor Pos di Pusat Kota Medan, berdampingan dengan Lapangan Merdeka. [/caption]
Peringatan HUT Kota Medan oleh Pemuda dan Mahasiswa Karo kembali digelar 5 tahun kemudian, tepatnya di bulan Juli tahun 2014. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pemuda Karo Medan (PKM) yang berkolaborasi dengan Sanggar Karo Indonesia (SKI). Jalan tanjakan dan banyak tikungan yang menghubungkan Medan (Karo Jahe) dengan Berastagi (Karo Gugung) dan Kutacane (Tanah Alas) (Aceh Tenggara) [/caption]
Pada tahun 2015, kegiatan Refleksi HUT Kota Medan masih tetap dilakukan oleh PKM di Monumen Guru Patimus. Sementara kegiatan lainnya, yakni Kerja Tahun Kota Medan yang dilaksanakan di tempat terpisah, yaitu di Gedung Medan Club juga memiliki spirit yang sama dalam rangka ingin menunjukkan eksistensi Suku Karo di tengah-tengah Kota Medan, khusus untuk kegiatan Kerja Tahun tersebut, penulis juga menyebutnya sebagai salah satu momen sejarah bagi masyarakat Karo di Kota Medan.