Kolom Bastanta P. Sembiring: Gagal Paham Dan Fobia
Lucu rasanya melihat komentar-komentar dalam diskusi tentang KBB (Karo Bukan Batak) di media sosial belakangan ini, terkhususnya di facebook. Bisa dikatakan, kebanyakan komentar itu dilontarkan oleh orang yang tidak paham topik, atau sering kita katakan gagal paham, juga fobia. Penampilan Sanggar Sirulo di sebuah acara yang dilaksanakan oleh GBKP di Retreat Centre Sibolangit.[/caption]
Dalam kolom saya di sorasirulo.com sebelumnya yang berjudul “Matinya Emansipasi Pemikiran di Karo ”, di sana dikemukakan beberapa penggiring opini negatif untuk membendung pergerakan KBB, diantaranya: Karo bukan Batak, sama dengan anti/ benci Batak. Karo bukan Jawa, sama dengan anti/ benci Jawa. Karo bukan Jahudi, sama dengan anti/ benci Jahudi, juga anti/ benci Kristus (karena Yesus orang Jahudi).
Gejala ini sebenarnya, jika diteruskan, takutnya akan menjurus kepada psikopat.
Untuk mengurangi gagal paham dan fobia KBB, mungkin sedikit saya coba menjelaskan. Dan bagi yang sudah menjurus kepada psikopat tadi ataupun yang memang seorang algojo / tukang pukul dalam diskusi atau kata Ariston Ginting “biang perburu ”, mungkin tidak perlu lagi dijelaskan, karena mereka sebenarnya tahu, tetapi kebenaran Karo itu harus diabaikan demi menjaga kepentingan tuannya.
“Sejak kapan rupanya Karo Bukan Batak, sedangkan nama GBKP sudah ratusan tahun,” katanya. Sejujurnya saya tidak ingin mengaitkan hal ini dengan GBKP, tapi karena banyaknya yang berkomentar demikian, saya katakan kembali ini jelas gagal paham. Karena GBKP sendiri juga mengakui kalau penggunaan nama GBKP itu baru dimulai sejak 1941 pada Sinode I =di Sibolangit. Tidak percaya? Silahkan anda lihat di situs resminya GBKP, atau cari informasi langsung ke kantor Moderamen di Kabanjahe.