Kolom Bastanta P. Sembiring: Indonesia Dukung
Bukan tanpa sebab. Perjuangan keras Basuki Tjahya Purnama (BTP) yang akrab disapa Ahok si anak pulau dari Bangka Belitung ini, untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, membuahkan hasil kepercayaan dan dukungan seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya di Jakarta saja. Dia dinilai berhasil dalam mewujudkan pemerintahan yang baik dan memberi warna baru bagi dunia perpolitikan Indonesia.
Seluruh mata dapat melihat dan mendengar apa yang sudah, sedang dan akan ia kerjakan untuk Jakarta khususnya. Orang-orang di Jakarta sudah merasakan polesannya. Jadi, yang namanya tokoh atau media yang tidak jarang menyajikan berita menyudutkan beliau, masyarakat sudah tahu mana yang harus didengar dan dipercaya.
Ini negeri demokrasi dengan perkembangan teknologi informasi yang tidak dapat dibendung. Bukan lagi zaman duhulu yang main brendel saja kalau tak sesuai apa kata atuk. Menjelekkan-jelekkan tokoh yang sudah di hati rakyat, sama dengan seperti meludah ke langit. Orang-orang sudah cinta dan menginginkan sosok pemimpin tegas, jujur, bersih dan berani seperti Ahok.
“Banyak orang jujur dan cerdas. Tetapi, tidak berani,” demikian bermunculan komentar menanggapi sebuah berita berkaitan dengan penggusuran di Kampung Pulo. Membenturkan dengan RAS (rasis, atheis dan sparatis) bukan lagi zamannya. Arus informasi itu terlalu cepat. Sebelum si pencemooh bangun dari mimpinya, rakyat sudah tahu apa masalahnya. Apalagi mengatasnamakan keadilan dan kemanusiaan, sungguh suatu kebodohan dan benar memang hanya orang bodohlah yang masih mau terkecoh. Jadi, kalau orang bodoh mengajari orang bodoh, sudah dapat diprediksi hasilnya. Berkat jasa-jasa para pencemooh ini, syndrom Ahok pun kian menyebar. Ini mengingatkan kita 2014 lalu saat si kurus (maaf) habis-habisan disiram dengan kekejian. Buktinya, popularitasnya menanjak drastis dan kini menduduki kursi nomor 1 di Republik ini.