Kolom Bastanta P. Sembiring: Jeruk
Membaca berita ini, jadi ingat pembicaraan sebelumnya dengan beberapa agen jeruk di Jambi dan Riau yang barang dagangannya seluruhnya dipasok dari Dataran Tinggi Karo. Salah satunya Ginting, seorang pedagang yang sudah sekitar 6 tahun ini menjalankan usahanya di wilayah Jambi.
Pagi itu , sekitar Pukul 09.00 wib, Ginting datang ke tempat saya dengan muka masam. Tidak seperti biasanya, dia selalu tampak segar dan gembira. Belum sempat turun dari sepeda motornya, saya melihat dia sibuk menelepon dari ponselnya.
Sebagai seorang sahabat yang juga masih ada hubungan keluarga, rasa ingin tahu sangat besar apa yang membuatnya murung. Namun, tidak harus menunggu saya bertanya, dia pun langsung bercerita, katanya: “Sudah kubilang dari kemarin sama turangndu , kalau barang dari X, Y dan Z jangan diambil. Pasti rugi!” Katannya tampak sedikit emosi.
Sudah dapat diduga, ini pasti masalah bisnis lagi. Perlahan saya mengorek lebih dalam, apa sesungguhnya yang menjadi inti permasalahannya.
Lalu katanya: “Sekitar 35 keranjang jeruk sekarang sedang di perjalanan.”
“Jadi, apa masalahnya?” tanya saya.
“Kan biasapun habisnya kam jual segitu? Untung kecilpun jadilah, yang penting barangndu habis,” sambungku mencoba meyakinkannya. “Bukan soal jumlah barangnya itu, silih !” katanya sedikit menaikkan volume suarannya. Sambungnya: “Sudah kubilang dari dulu sama turangndu kalau barang dari derah itu jangan diambil. Pasti rugi!” Menegaskan, dia pun mengulangi apa yang sudah dikatakannya sebelumnya. Tanyaku lagi: “Kenapa kam berani menjamin itu pasti rugi.?” Jawabnya: “Sudah pernah kita coba 4 keranjang. Sebenarnya, kemarin itupun saya berat menampungnya, tapi karena turangndu maksa, sebab itu barang punya kadé-kadénya (kerabat), makanya kita terima.”
“Ya, lebih setengah yang busuk sampai di sini,” jawabnya sembari tersenyum.
Jika berkaca dari ini, maka sangatlah wajar para pedagang kemudian ragu untuk menampung buah dari Dataran tinggi Karo. Walaupun sesungguhnya hanya sebahagian kecil yang demikian. Untuk memperjelas hal ini, saya coba menanyakan kepada beberapa teman asal Dataran Tinggi Karo yang saat di kampung juga berkecimpung di sektor perkebunan jeruk. Melalui pesan BBM, mereka pun membenarkan hal ini. Memang diindikasikan ada beberapa daerah di Dataran Tinggi Karo yang demikian dan semua membenarkan itu akibat dari pemakaian pupuk racikan sendiri. Namun mereka menegaskan, itu hanya sebagian kecil saja dan untuk saat ini buah dan sayuran dari Dataran tinggi Karo masih diminati di pasar. Akan tetapi, lebih lanjut, mereka juga menyayangkan hal ini, karena jika produksi dari Dataran Tinggi Karo seperti ini semakin sering ditemukan, maka nama jeruk Karo dan juga tentunya hasil produksi pertanian Karo lainnya akan tercemar di pasaran.