Jujur saja, bidang finance atau pun devisa bukan bidang saya. Tetapi saya akan coba tanggapi dengan kasus bagaimana saya meyakinkan ibu saya keputusan menghutang ke bank untuk beli tanah adalah tepat. Orangtua telah meminjam ke bank ratusan juta untuk beli tanah karena uang hasil jeruk tidak mencukupi. Karena produksi jeruk berikutnya tidak sesuai dengan perkiraan maka pembayaran angsuran menjadi beban berat. Mengeluhlah ibu saya menyesal telah menghutang ke bank. Saya pun dengan yakin mengatakan: “Oh, keputusan meminjam ke bank untuk ladang kita yang 3 Ha itu adalah keputusan sangat jitu. Karena ladang itu dekat dengan sumber air, sehingga produksi pertaniannya akan sangat melimpah. Bisa saja ibu beli fortunner dgn hasil jeruk sebelumnya,tetapi ketika jeruk gagal maka kam tidak punya ladang cadangan untuk tetap bertahan dan bertanam.”
Saya meyakinkan ibu saya bahwa keputusan tepat itu adalah ngutang untuk lebih produktif. Cara pandang saya sama terhadap tambahan hutan pemerintah saat ini. Saya membayangkan bahwa Jokowi yakin pembangunan sektor ril dan SDM harus dikerjakan saat ini juga, kalau tidak bonus demografi 2025 akan menjadi petaka.
Artinya, pembangunan tersebut bukan pilihan tapi keharusan. Pembangunan harus, tetapi Pak Presiden juga realistis uang tidak cukup sehingga hutang akan digunakan untuk pembangunan negara ini dari yang konsumtif menjadi produktif.
Saya meyakini, di pemerinthan Pak Jokowi, hutang akan digunakan untuk mempercepat pembangunan pondasi kemandirian bangsa secara ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Begitu kira-kira khayalan saya perihal hutang piutang ini. // //