Kolom Joni H. Tarigan:
Memupuk ladang jagung di Dataran Tinggi Karo. foto: DARUL KAMAL LINGGA GAYO.[/caption] Di saat harga minyak dunia terus menurun, rakyat pun menantikan BBM akan juga ikut turun. Di balik kegembiraan harga BBM yang turun, mari kita lihat bagaimana kehidupan orang yang mengalami dampak negatif terhadap penurunan harga minyak dunia. Tidak hanya perusahaan minyak dan gas yang terkena dampak, akan tetapi semua perusahaan pendukung ikut tiarap ketika perusahaan minyak dan gas bangkrut. Inilah zaman ketika minyak sudah tidak berminyak lagi. Ribuan dan mungkina jutaan orang akan terganggu dapurnya karena pemutusan hubungan kerja akibat perusahan minyak dan gas tidak lagi bisa berproduksi karena biaya produki jauh lebih mahal daripada harga jual minyak dan gas mereka.
Pengeboran di wilayah baru dihentikan. Perawatan sumur yang ada ditiadakan. Jangankan perektrutan karyawan, karyawan yang ada saja dirumahkan. Kemudian, perusahaan pendukung yang bertumpu pada perusahaan migas terpaksa berhenti bernafas karena tidak ada proyek lagi. Di Indonesia, kelihatannya Pertamina yang belum ada berita merumahkan karyawannya, atau bisa jadi justru ini kabar baik untuk Pertamina mengambil alih kembali blok migas di wilayah Nusantara. Bertani jagung di Dataran Tinggi Karo. Foto: DARUL KAMAL LINGGA GAYO.[/caption]