Kolom Joni H. Tarigan: Bercermin Dari
Sudah menjadi kebiasaan saya mencoba melihat sisi lain dari apa yang orang kebanyakan perhatikan di jalanan. Saya pun melihat siapa diri saya ketika saya mengemudi. Aturan standard adalah mengemudi sesuai aturan untuk keselamatan dimana keselamatan itu untuk diri sendiri dan orang lain. Di sini kita sudah melihat sisi kemanusiaan yakni peduli terhadap diri sendiri dan orang lain.
Pernah suatu ketika saya menaiki angkot, mungkin anda punya pengalamn juga, dengan ugal-ugalan mendahului kendaraan lain. Sisi kepentingan diri sendiri sangat menonjol, istilah lainya egois. Pada kesempatan lain, orang lain mencoba hal yang sama yakni mendahului si angkot ini dengan ugal-ugalan juga.
“Goblok, yang bener dong nyetirnya!!!” dengan amarah yang besar si supir angkot protes dan mengecam orang yang mendahuluinya.
Mungkin kebanyakan kita adalah orang yang sama seperti ini, kita protes apa yang orang lain lakukan, padahal kita sendiri jauh lebih buruk dari yang kita protes. Itu ketika melihat orang lain yang mengemudi kendaraan.
Pengalaman yang satu ini adalah pengalaman saya sendiri. Kecepatan, keamanan, kenyamanan, dan keselamatan (4K) terhadap diri sendiri dan orang lain menjadi perhatian saya ketika berkendaraan. Untuk mewujdukan 4 (k) tersebut maka beberapa hal yang pernah saya lakukan adalah:
Ketika jalanan sedang kosong saya akan pacu kendaraan dengan cepat. Karena tujuan saya adalah cepat sampai ke tujuan. Ketika jalanan padat maka saya akan atur kecepatan cepat, sedang, lambat dan bahkan berhenti. Jika kendaraan di depan saya lambat (truck, container) dan di depannya kosong, maka saya akan pacu dengan sangat kencang tetapi tidak akan saya lakukan di tikungan dan juga ketika kendaraan yang panjang melambat.