Kolom Joni H. Tarigan: Kereta Cepat Dengan Pertanian
Saya semakin yakin bahwa Jepang dan masyarakatnya masih merasa seperti bermimpi dengan ditunjuknya China untuk membangun kereta cepat Jakarta--Bandung. Keyakinan ini berdasarkan obrolan saya dengan orang Jepang sendiri. Sudah 4 orang rekanan tenaga kerja dari Jepang menyampaikan kekecewaan mereka. Alasan kekecewaan tersebut sudah saya paparkan pada tulisan sebelumnya .
Pandangan pesimis tersebut akan mengungkapkan banyak kegilaan. Pertama ialah, kereta cepat tidak ada kaitannya denga pertanian. Ini yang membuat ide pasti sedang banyak hutang sehingga mengigau. Berikutnya adalah, kereta cepat ini dibangun dari Bandung ke Jakarta. Tanah Karo jauh saja tidak, amat sangat jauh pun tidak. Tempat proyek ini terpisah antar pulau antara Jawa dan Sumatera. Pasti yang mencetuskan ini adalah sakit Jiwa. Kegilaan yang lain akan dilontarkan adalah, ini kereta cepat bukan pesawat cepat. Sama sekali tidak masuk akal, jangankan masuk akal masuk tong sampah pun tidak pantas. Itulah kira- kira tanggapan kaum pesimis dan pengamat hemat wawasan.
Saya akan coba sambungkan proyek kereta cepat ini dengan pertanian Karo.
Jalur kereta tersebut akan dibuat dengan melewati 8 stasuin yakni: Gambir, Manggarai, Halim, Cikarang, Karawang, WALINI, Kopo, dan Gedebage (Kolom Rheinald Kasali -Kopas: Menyoal Ribut-ribut Kereta Cepat Jakarta-Bandung). Anda pasti tidak melihat ada nama Kabanjahe, tidak juga Berastagi, tidak juga Medan. Jangankan Medan, Lampung saja tidak disinggahi. Ladang jagung di Taneh Karo.[/caption]