Kolom Juara R. Ginting: Hegemoni Dan Kbb (karo Bukan
Seperti halnya keyakinan bahwa nenek moyang orang Karo adalah sama dengan nenek moyang orang-orang Batak atau bahkan dianggap pernah menjadi Batak dan kemudian pecahannya menjadi Batak Karo. Banyak orang Karo mengenal Batak Karo setelah dewasa dan sekolah ke Medan atau dari nama GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Sebelum ada gerakan KBB online, tidak banyak yang menggugat mengapa kita ini dikatakan Batak Karo dan mengapa gereja kita diberi nama Batak Karo serta sejak kapan. Sekarang, telah ditemukan secara ilmiah bahwa DNA Karo tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Batak tapi satu keturunan dengan Gayo.
Ingat, sekitar 2 tahun lalu masih banyak orang membantah KBB (Karo Bukan Batak) dengan argumen seperti ini: "Kalau memang kita bukan Batak, mengapa nenek moyang kita memberi nama gereja kita GBKP?"
Pertanyaan seperti ini didasarkan pada keyakinan bahwa sejak awal nama GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) dipergunakan untuk gereja ini. Padahal, situs resmi GBKP sendiri jelas sekali menunjukkan bahwa nama GBKP baru ada di tahun 1941 terkait dengan peristiwa politik khususnya atas kekalahan Belanda dari Jerman di Perang Dunia II. Pertanyaan seperti itu tadi sekarang ini sudah akan ditertawakan oleh banyak orang (ada perubahan pengetahuan).
Itu adalah contoh bagaimana HEGEMONI mempengaruhi pikiran banyak orang tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetap saja panitia jubilium 135 tahun mengatakan Jubilium 135 GBKP padahal dulunya itu jubilium rehna berita simeriah ku kalak Karo . Kalau kita protes, maka kita dianggap musuh GBKP. Itulah contoh HEGEMONI. Ketidaktahuan (akan sejarah) menjadi penentu kebenaran. Tarian JUMPA JAHE karya Juara R. Ginting ditampilkan oleh Sanggar Seni Sirulo di Hotel Danau Toba International (HDTI) Medan dengan penari Masmur Sembiring (kiri) dan Bernita br Sembiring (kanan)[/caption] Lalu, Arya Sinulingga mengusulkan adanya revolusi (mirip REVOLUSI MENTAL) dari sifat Karo yang DEFENSIF ke EKSPANSIONIS. Bagi para pejuang kinikaron di luar Karo akan sangat menyadari bagaimana defensifnya kebanyakan orang Karo. Umumnya enggan membuat gerakan keluar. Mungkin ini akibat karakter INTROVERT (pemalu) dari orang-orang Karo (padahal orang-orang kebanyakan di Indonesia menganggap Karo EKSTROVERT karena menganggapnya Batak).
Kalau memang gerakan #Savetanahkaro ada apa-apanya yang tidak enak, tidak usah menunggu lama, sudah akan kita lihat sendiri hasilnya. Gerakan apapun namanya tak ada lagi sembunyi-sembunyi sekarang ini.
Kalau kita kaitkan cultural involution dari Clifford Geertz dengan perpolitikan Karo, sama seperti yang pernah dipertanyakan oleh Brandy Karosekali di grup Jamburta Merga Silima (JMS), mengapa mau jadi bupati ke Kabupaten Karo semua? Kok tidak ada yang berani ke Pilkada Medan, Deliserdang dan lebih jauh lagi, Humbang Hasundutan, misalnya. Alias JAGO KANDANG. Tari Tungkat Malekat karya Juara R. Ginting ditampilkan di Hotel Danau Toba International (HDTI) oleh Sanggar Seni Sirulo dengan penari Bernita br Sembiring (kiri) dan Salmen Kembaren (kanan)[/caption] Hanya saja, Arya lupa pada kajian WITCHRAFT di Antropologi. Di sejarah Eropah pernah terjadi dimana banyak perempuan dibunuh karena dianggap nenek sihir. Sejarah kelam bagi kemanusiaan dan kekristenan. Kajian Antropologi memperlihatkan sebab-sebab seseorang dicurigai sebagai nenek sihir adalah karena beprilaku terlalu revolusioner dari kebanyakan orang di komunitasnya. Sama dengan kasus-kasus tuyul, gendoruwo dan begu ganjang . Karena seseorang melesat melebihi orang-orang di sekitarnya dengan gampangnya, dia akan mendapatkan fitnah macam-macam.