Kolom M.u. Ginting:
Apa yang belakangan sangat banyak dibicarakan oleh ahli anak-anak dan psikolog ialah dalam soal komunikasi dengan anak. Komunikasi antara anak dan orangtua biasanya tak pernah jadi perhatian orangtua. Bukan hanya orangtua yang berpendidikan, apalagi yang tidak. Hidup jalan sendiri, kawin, dapat anak, cucu, itu saja pada umumnya. Siapa pula yang sempat ngurus psikologi anak, atau kebutuhan anak secara psikologis dan ilmiah. Barangkali ini adalah persoalan yang harus diangkat juga.
Yang sering ialah bahwa komunikasi dengan anak sedemikian rupa sehingga tidak “membuat anak dengan leluasa dan nyaman untuk bercerita mengenai hal yang dialaminya sehingga anak tetap bisa tenang menghadapi masalah tersebut” (Dr. LK). Banyak anak karena bullying itu bunuh diri, dan orangtua sedar baru setelah terjadi. Dalam hal ini, tentu pertanggungjawaban sekolah/guru cukup besar. Karena sekolah punya fasilitas lebih besar dari orangtua, mestinya punya tanggungjawab lebih besar pula. Tetapi soal ini tak diangkat ke diskusi, sangat sensitif bagi sekolah dan hierarkinya. tak akan jalan dengan adanya pengaruh obat-obatan terlarang[/one_fourth]
Sering juga memang terjadi diantara murid-murid yang sudah lebih besar, dimana guru yang ikut campur dibunuh oleh pembulli itu. Ini membikin guru lebih ’berhati-hati’. Ini tak lepas juga dari analisa Dr. LK bahwa ”mereka yang melakukan ‘bullying’ juga tidak lepas dari sikap dan perilaku yang kurang baik seperti: perilaku menentang, sering bolos sekolah, merokok dan memakai narkoba serta perilaku kekerasan lainnya”. Semua pikiran atau usaha indah-indah dalam komunikasi antara anak, orangtua dan guru tak akan jalan dengan adanya pengaruh obat-obatan terlarang itu.
Satu lagi yang jadi perhatian saya ialah dalam soal komunikasi antara anak dan orangtua tadi, selalu tak lepas dari kultur/kharakter orangtua yang introvert atau extrovert. Hubungan atau komunikasi antara anak dan orangtua dalam keluarga extrovert sangat jauh berbeda dengan hubungan pada keluarga introvert. Keluarga extrovert lebih menandaskan logika/pikiran, dalam keluarga introvert lebih menandaskan hatinya atau pusuhna kata orang Karo. Saya tidak tahu apakah seorang psikolog melihat ini kalau bicara dengan anak atau orangtuanya. Tetapi dalam banyak diskusi hubungan dengan anak tadi, saya tak pernah dengar, walaupun soal ini sangat mempengaruhi kwalitas pencerahan soal komunikasi. Bagaimana seorang psikolog bilang ini itu kalau dia tak pastikan dulu orang itu introvert atau extrovet. "mari nakku nta kam kusemburi"[/one_fourth]
Tulisan terkait: Stop 'Bullying' untuk Masa Depan Generasi Penerus // //