Kolom M.u. Ginting:
Ketika Gagarin ke angkasa, dunia 'bebas dan demokrasi' Blok Barat jadi geger. Banyak negeri Afrika jadi 'sosialis' setelah itu. Bagi Barat sangat terlihat kemunduran, tentu perlu ditandingi dengan yang lebih hebat lagi. Gagarin sendiri tewas 1968 dalam percobaan baru pesawat tempur yang lebih dahsyat, dalam rangka politik perang dingin itu juga, tentunya.
Kematian Gagarin dirahasiakan tentunya, tetapi macam-macam sebab diberitakan kecuali sebab utama tadi. Perang dingin semakin menanjak terus dalam bidang senjata nuklir dan juga pesawat tempur canggih terbang tinggi dan cepat di atas kecepatan suara. Di angkasa juga jadi pertandingan yang jelas menentukan, dengan keberhasilan Gagarin banyak negeri jadi sosialis, termasuk usaha Indonesia dengan Soekarno dan PKI sebagai pelopornya. Rakyat Indonesia mengalami pergolakan ini. Lebih dari 3 juta dijagal oleh Soeharto menentang 'perkembangan sosialis' itu demi mempertahankan 'demokrasi dan kebebasan Barat'.
NASA punya peranan penting mempengaruhi maju mundurnya politik Barat. Mereka bisa bohong, tak soal. Dari dulu juga sudah ada foto-foto pendaratan itu di bukit-bukit gersang USA. Sekarang malah dibilang kalau dokumentasi penerbangan ke bulan itu sudah hilang tak sengaja.
Tetapi kegelapan selalu jadi terang dalam perubahan kontradiksi. Kontradiksi berubah, kegelapan ikut berubah, artinya jadi jelas sesuai dengan kebenaran. Kontradiksi berubah dimana kegelapan tak ada lagi yang membutuhkan. Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan. Tanpa kontradiksi tak ada pendorong kemajuan, tak ada perubahan.
Ethnic competition adalah satu kontradiksi, tak terelakkan dalam saling hubungan antara etnis atau macam-macam kultur. Konradiksi ini tersisihkan ketika kontradiksi pokok dunia antara Blok Barat dan Blok Timur dilanda Perang Dingin. Dalam soal ini, orang Karo sudah mulai melihat perubahan dan perkembangannya dalam kehidupan Karo abad 21.