Kolom M.u. Ginting: Dari Pilkada Karo Ke
Antara kekuatiran dan harapan . . . antara sinanggel dan sura-sura . . . 'seh sura-sura tangkel sinanggel ' dalam dialektika pikiran Karo yang sudah berumur lebih dari 5.000 tahun.
Orang Karo punya harapan, tetapi sering dikecewakan oleh pemimpinnya yang dipilih sendiri, karena 'salah pilih'. Bagaimana memilih yang benar? Bagaimana memilih supaya tak salah pilih? Pernahkah rakyat pemilih ini diberi pendidikan atau pencerahan soal ini? Terutama dari pihak pemimpin itu sendiri tak pernah terpikir soal ini. Yang mereka ajarkan ialah 'pilihlah saya'! Semua dimobilisasi untuk memilih 'saya'.
Siapa yang menang?
Selama ini, umumnya yang menang ialah yang mengeluarkan uang lebih banyak. Itulah yang dipilih rakyat karena dapat duit lebih banyak pula. Berita selanjutnya sehabis pemilihan ialah berita korupsi kepala daerah selalu mendominasi berita daerah, daerah mana saja atau kebanyakan daerah negeri ini.
Adakah daerah dan kepala daerahnya yang beritanya positif? Ada juga tetapi jarang, satu dua persen dari 100%. Ahok misalnya, walaupun perjuangannya sangat sengit, tetapi tak ada kamus korupsi dalam dirinya. Surabaya juga positif beritanya. menyedihkan dan juga memalukan[/one_fourth]
Berita lainnya ialah berita uang diselewengkan oleh kepala daerah atau pejabatnya, hakim pada disuap, atau tak mau hadir di pengadilan seperti terjadi di Karo tempo hari, atau nyakit-nyakit takut diadili. Mengapa kok tadinya rakyat memilh orang-orang ini? Orang yang sangat menyedihkan dan juga memalukan, kelakuan dan cara berpikirnya?
Itulah salah pilih tadi. Lantas persoalannya masih tetap, bagaimana memilih supaya tidak salah pilih lagi?! Siapa yang berikan pencerahan? Atau apakah mungkin ada pencerahan supaya orang memilih yang benar?
Dalam tahun-tahun terakhir memang banyak perubahan dalam soal politik duit ini. Banyak yang kecewa karena uang biaya yang dikeluarkan ketika kampanye tak sebanding dengan pemasukan setelah jadi bupati atau gubernur Tak hanya itu malah masuk hotel gratisan pula 5-12 tahun. Itulah jasa KPK. Contohnya Gubsu lalu, sudah dipenjarkan 6 tahun masih harus bayar pula miliaran rupiah.
Sekarang, KPK dalam pergolakan memang setelah perang cicak yang berulang-ulang tak selesai-selesainya. Tetapi arus besarnya tak akan berubah, yaitu musuh bebuyutan kaum koruptor (KPK) sudah lahir dan akan makin besar saja, tak ada arus yang bisa mengalahkan. Kekacauan KPK sekarang hanya bersifat sementara, intermezzo saja. 2 korban kerusuhan Pilkada Kabupaten Karo 2010 saat dirawat di RSU Kabanjahe. Foto: JUARA R. GINTING[/caption]