Kolom M.u. Ginting: Darwinian Competition In Karo
Sama halnya dengan semua daerah lain, orang Karo dan daerahnya juga punya masalah yang sama. Menyangkut masa depannya dan nasibnya sebagai suku, yaitu Suku Karo dengan budaya, kultur dan daerahnya yang masih utuh. Termasuk di dalamnya kearifan lokal.
“Given that some ethnic groups (especially ones with high levels of ethnocentrism and mobilisation) will undoubtedly continue to function as groups far into the foreseeable future, unilateral renunciation of ethnic loyalties by some groups means only their surrender and defeat – the Darwinian dead-end of extinction. The future, then, like the past, will inevitably be a Darwinian competition in which ethnicity plays a very large role,” kata Prof. Kevin MacDonald dalam tulisannya yang berjudul Genetic Interests of Ethnic Groups. [/one_half] Dalam bahasa Indonesia (terjemahan bebas):
"Mengingat bahwa beberapa kelompok etnis (terutama yang tingkat etnosentrisme dan mobilisasinya tinggi) pasti akan terus exis dan berfungsi sebagai kelompok jauh ke masa depan, dan penolakan sepihak loyalitas-etnis oleh beberapa kelompok berarti hanyalah menyerah dan mengakibatkan kekalahan mereka - atau dari segi Darwin berarti titik akhir kepunahan mereka. Maka itu, masa depan, seperti juga masa lalu, pasti akan terus berlaku kompetisi Darwin dimana kesukuan memainkan peran yang sangat besar, " kata Prof. Kevin MacDonald.
Bagi orang Karo juga sangat berlaku kebersamaan dan kesetiaan sesamanya dalam menghadapi persaingan yang tak terelakkan ini. Kalau kebersamaan dan kesetiaan sesama Karo ini terganggu, atau karena satu atau lain hal diabaikan oleh orang Karo secara sengaja atau tidak dalam persaingan itu, berarti orang Karo sudah menyerah dan sedang menuju kekalahan. Selanjutnya, berangsur-angsur akan tiba di batas akhir kepunahannya sebagai suku tersendiri yang utuh.
Orang-orang pendatang di Karo selalu disambut oleh orang Karo, tetapi orang Karo sebagai tuan rumah tidak harus secara sepihak menolak atau mengurangi kesetiaan-sukunya sesama Karo. Ini perlu untuk mempertahankan budaya dan kultur Karo di daerah ulayat Karo dan dengan sendirinya juga kearifan lokal tanah ulayat Karo.
Orang Karo bersikap terbuka menyambut pendatang. Memang begitulah kebiasaan dan way of thinking Suku Karo. Tetapi, pendatang maupun orang Karo tak boleh lupa kalau pendatang itu datang ke daerah ulayat orang Karo. Di situ ada tradisi Karo yang tak perlu dirombak atau dirusak oleh pendatang. ‘Minorities should be welcomed but they should not be able to remake society in their own image, ’ kata Prof. MacDonald. [/box]
Bagi pendatang, masih tetap harus diberlakukan ‘dimana bumi di pijak, di situ langit dijunjung'. Bagi orang Karo, harus tetap mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal Karo, karena kearifan lokal Karo sudah terbukti bikin hidup Suku Karo sejak ribuan tahun. Tiap daerah ulayat suku tertentu di situ ada kearifan lokal suku itu.
Persaingan etnis adalah alamiah (Darwinian natural selection). Tak pelak, kita harus melawan human nature dalam menangani persaingan etnis ini. Kita harus mengakui ini baru bisa menghadapinya. Kita harus mengerti juga bahwa tiap etnis punya mobilitas berlainan, begitu juga inteligensinya dan kesetiaan etnisnya sangat berbeda dari etnis ke etnis seperti dalam penjelasan MacDonald di atas. Foto: Eiwans Tarigan[/caption]