Kolom M.u. Ginting: Kenyamanan Jati
Dulu kelihatannya tak ada yang mempersoalkan masalah ’pembatakan’ ini, baik di kalangan anak-anak muda maupun di gereja orang Karo itu. Hampir semua merasa aman dan nyaman, dan semakin lama semakin aman dan semakin nyaman. Terlihat seakan-akan sudah berpadu dengan perjalanan hidup sehari-hari mengikuti pengaruh kultur Batak serta way of thinkingnya yang juga tambah meningkat terutama bagi yang dekat dengan kehidupan gereja yang banyak kaitannya dengan gereja Batak atau orang Batak. politik pembatakan bergema dan mantap[/one_fourth]
Walaupun banyak juga yang merasa tak nyaman, tetapi dalam situasi ’indifference and ignorance’ (istilah Dalai Lama terhadap orang Tibet dalam masa setengah abad pencinaan Tibet) sehingga Karo yang menentang pembatakan terlihat minoritas dalam kondisi ’silent majority’ tak ikut vocal mulut besar seperti orang-orang extrovert ketika itu. Dalam situasi demikian, sepertinya politik pembatakan bergema dan mantap. Bagi the silent majority ini terasa bagaimana tak nyamannya kalau dibilang ’kau batak’ atau ’tortor Karo’ atau ’ulos Karo’. Sangat tak nyaman dan juga sangat tak menyenangkan dikelilingi vokal seperti itu.
Kelompok musik dan tari Karo di Belanda seusai menampilkan Beidar Sinabung di sebuah gedung teater. Penampilan disaksikan oleh Dubes RI yang tak berapa lama kemudian diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Jokowi[/caption]