Kolom M.u. Ginting: Kilang
Kalau di era Orba tidak terbangun memang masuk akal karena Orba sepenuhnya di bawah kekuasaan imperialisme. Tetap di era Reformasi masih belum terbangun juga, ini artinya kapital internasional minyak itu masih punya orang-orangnya di pemerintahan Indonesia. Sekarang, sudah mulai dilihat oleh pemerintahan Jokowi. Lebih baik terlambat daripada tak pernah sama sekali melihat penipuan internasional ini. dari daerah ke nasional[/one_fourth]
Sekarang, ‘arah perkembangan dari daerah ke nasional dan dari nasional ke internasional’ adalah jalan yang betul dan betul-betul itu saja jalan yang harus ditempuh. Jalan lama dari internasional hanya jalan yang diinginkan oleh rentenir internasional yang artinya bikin utang/ pinjaman saja. Tak bikin kilang minyak juga supaya tergantung terus dan yang punya kilang tambah banyak untungnya, minyaknya dari kita. Mereka bersihkan dan jual lagi ke kita. Itulah ulah persekongkolan internasional itu.
Apakah tak ada yang melihat soal ini selama ini? Saya kira banyak yang melihat, tetapi tak ada yang berani ngomong, karena bisa diciduk oleh (Orba), atau di era Reformasi mulutnya langsung disumbat dengan dollar. Apakah sekarang tak bisa mulutnya disumbat dengan dollar? Tentu masih bisa, tetapi tak begitu aman lagi seperti ketika permulaan Reformasi. Era keterbukaan dan era pemblejetan segala macam kegelapan bikin orang ragu makan dollar kayak dulu. Salah-salah bisa jadi buronan KPK dan risiko masuk hotel gratisan bertahun-tahun. Tidak ada lagi yang menjamin akan selamat bagi pemakan dollar suap itu. Itulah perubahan dan perkembangan.