Kolom M.u. Ginting: Kok Takut
Betul sekali, itulah yang selama ini terjadi, yang telah menimpa nasib orang Karo. Kalau jauh dari kekuasaan, tentu jauh juga dari ingatan orang, orang tak akan gubris atau lupa. Perjuangan politik adalah perjuangan untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat. Karo punya modal dalam hidupnya selalu berdasar pada kejujuran dan keihlasan. Tetapi, kekuasaan tidak selalu sama dasarnya dengan pikiran Karo.
Orang Karo sebagai suku dan sebagai perorangan masih jauh dari ingatan orang banyak (publik). Ini terlihat dari pencalonan politisi nasional orang Karo selalu kalah pilih. Dari segi minoritasnya memang sulit, tetapi bukan itu faktor utama yang bisa mengubah situasi.
Ada satu hal jelas, ialah orang yang sudah mengenal Karo pastilah punya pikiran dan simpati yang sangat istimewa dalam arti munculnya perubahan mendalam dari kesan yang ada selama ini. Munculnya kesan baru dengan kwalitas baru, terutama keluarnya dari kesan lama ’Batak Karo’ setelah memahami secara tuntas bahwa Karo bukan Batak seperti yang ditanamkan oleh kolonial Belanda maupun terakhir dengan politik pembatakan berbagai suku di Sumut. Monumen pendiri Kota Medan, Guru Patimpus Sembiring Pelawi, difoto dari atas dengan drone oleh Nefo Ginting.[/caption]
Jelas yang melakukan ini adalah putra-putri Karo yang utama! Yang sudah merasa terpanggil dan yang jumlahnya semakin banyak, mulai dari Karo, Medan, Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor, sampai ke Bangkok dan Leiden.