"Kalau dia (Jokowi) punya keberanian lakukan reshuffle terhadap menteri ESDM dan BUMN. Ini jadi prestasi dan hadiah 100 hari," ujar anggota Fitra Ucok Sky Khadafi dalam diskusi "100 hari Jokowi" di Jakarta Selatan . Abad lalu, abad mulut besar extroversi (loudmouth braggarts ) masih berlaku dan orang-orang extrovert menganggap Jokowi tak ada keberanian, tak tegas, dsb. Dari sudut pandang extroversi memang demikian. Tetapi Jokowi introvert, dan bertindak serta berpikir introversi.
Keberanian dan ketegasan Jokowi ialah berani memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat untuk ambil bagian menilai dan mendiskusikan semua soal penting negara, termasuk dalam menilai menteri-menterinya. Sudah terlihat pada menteri Tedjo jadi menteri ’tak jelas’. Bahwa pengangkatan menteri-menteri banyak dipengaruhi orang-orang sekeliling Jokowi, jelas begitu, tak ada yang lain bisa terjadi ketika itu. Semua kelompok sekeliling Jokowi, termasuk mafia neo liberal, mafia migas dll. bikin bagiannya sendiri dan memperjuangkan kepentingannya. Juga kelompok partai-partai pendukung, seperti PDI-P yang ingin menjadikan BG Kapolri. Diktator hanya menganggap ’rakyat tak jelas’[/one_fourth]
Jokowi memberi kesempatan dan juga ingin masukan dari KMP dengan bikin pembicaraan bersama. Itu juga satu keberanian luar biasa ditinjau dari keberaniannya beri kesempatan untuk menilai kepada siapa saja termasuk jutaan publik dari lapisan rakyat umum. Mana ada keberanian begitu. Diktator yang punya senjata lengkap pun tak berani bikin begitu. Diktator hanya menganggap ’rakyat tak jelas’. Jokowi sebaliknya percaya pemikiran dan penilaian rakyat dan selalu jelas. Selalu jelas karena bisa disaring oleh jutaan orang.
Mengikutkan KMP dalam debat KPK-Polri telah bikin kesimbangan baru antara Jokowi dan KIH. Dalam bahasa dialektikanya, kontradiksi Jokowi-KIH dan kontadiksi Jokowi-KMP telah bergeser ke tingkat baru dalam proses tes-antites-syntes. KIH terpaksa melihat kembali syarat-syarat dukungannya terhadap Jokowi, begitu juga KMP harus melihat kembali syarat penentangannya terhadap Jokowi. Semua pihak setuju ’untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia’.
Antara Jokowi-KIH selama ini sudah terlalu banyak syarat-syaratnya daripada dukungannya. Begitu juga antara Jokowi-KMP selama ini lebih mengutamakan penentangannya terhadap Jokowi. Jokowi merasakan dan berani menggoyah keseimbangan yang akan menguntungkan bagi perjuangan untuk rakyat. KIH-Jokowi-KMP dalam perkembangan baru. Kontradiksi KPK-Polri/BG telah berhasil mengangkat diskusi ke tingkat yang lebih tinggi dan yang sangat berguna bagi peningkatan pengetahuan rakyat. // //