Kolom M.u. Ginting: Menjerat
Pendapat ilmiah, tak ilmiah, benar tak benar soal BG dan KPK berhamburan. Uluran waktu Jokowi besar manfaatnya bagi kebenaran dan keadilan. Jokowi percaya pada rakyat dan revolusi mentalnya. Berkebalikan dengan Jokowi, BG dan pihaknya tak percaya revolusi publik, bikin praperadilan dan menang atau dimenangkan oleh hakim pilihan Sarpin dengan lahirnya banyak kontraversi sebagai akibatnya.
Selanjutnya berlaku pengadilan publik atas praperadilan Sarpin yang akan diajukan ke MA. BG masih tetap erat dengan rekening gendutnya, tak ada perubahan atau belum ada perubahan. Nasibnya kembali ke semula atau lebih jelek, karena Jokowi sudah menunjuk Badrodin Haiti sebagai calon Kapolri. Lawan-lawan BG di KPK juga sudah diganti semua setelah dikriminalkan oleh Bareskrim BW. Tumbuhan Cerek-cerek atau disebut juga Kantong Semar menjebak serangga dengan madu dan bentuknya yang menggairahkan sehingga terpeleset masuk menjadi santapan tumbuhan ini. Di dalam bahasa Karo tumbuhan ini disebut Taku-taku .[/caption]
Yang tak jelas masih belum berani keluar berarti masih gelap, masih dalam 'shadow' Von Goethe yang kurang cahaya. Semakin banyak orang bawa lentera, semakin tak ada tempat gelap untuk menyembunyikan sesuatu. Ini ditandaskan juga oleh Snowden, sang pahlawan whistle blower itu. Hukum yang berlaku sekarang ialah hukum lentera rakyat. Gerakan penyalaan lentera publik seluruh dunia dan revolusi mental semakin tak terbendung oleh kekuatan lama dari abad lalu. Gelombang revolusi ini semakin besar saja tiap harinya. Teater SIRULO menampilkan lagu Magdalena (cipt. Jusup Sitepu) dalam rangkaian pementasannya dari desa ke desa di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) dan Dataran Rendah Karo (Karo Jahe) (Medan termasuk di dalamnya).[/caption]