Kolom M.u. Ginting: Partisipasi Dan
Tanpa bantuan jutaan rakyat, sudah tak mungkin hutan dan lingkungan umumnya bisa diselamatkan. Itulah era sekarang, era partisipasi publik dan jutaan publik dalam semua soal kemanusiaan. Hanya itu satu-satunya yang masih mungkin diharapkan menyelamatkan dunia dan kemanusiaan yaitu partisipasi publik dan keterbukaan.
Pemerintah Jokowi bisa cari kreasi baru soal partisipasi jutaan rakyat ini. Syaratnya sudah ada: internet.
Tetapi, ini hanya teori. Sudah sering juga kita dengar dan sudah banyak yang menuliskannya juga di media. Hal lain yang lebih penting tetapi belum pernah ditulis ialah bagaimana caranya menghidupkan partisipasi publik itu? Tentu ada hubungannya dengan kearifan lokal karena pembakar hutan memulai dari satu lokal tertentu.
Tetapi, bagaimana supaya kearifan lokal itu dipraktekkan, juga belum ada yang menuliskannya. Selama ini, kita hanya menuliskan definisinya, juga bagaimana teori pelaksanaannya. Semua sudah tahu sampai di situ. Tetapi, siapa yang tahu bagaiman supaya ada yang memulai? Atau kita hanya pura-pura saja semua soal kearifan lokal ini? Memang bisa juga dipahami kalau kearifan lokal itu banyak yang tak senang. Kearifan lokal mengandung keterbukaan yang terang benderang, atas dasar pengalaman dan pengetahuan rakyat, kultur dan budayanya yang sudah ada sejak ratusan tahun. Banyak perusahaan yang tak menyukai partisipasi publik secara terbuka, seperti halnya perusahaan pengedar narkoba (sudah ada contoh rakyat bikin inisiatif membasmi pengedar narkoba di Lhokseumawe), perusahaan korupsi, perusahaan pencoleng duit negara, uang Bansos, pajak, dsb, dan perusahaan gelap lain-lainnya seperti pengguna lahan pembakar hutan itu.