Kolom M.u. Ginting: Pengakuan Terhadap
Tiap manusia dan grupnya (sukunya, nationnya) tak bisa dipisahkan dari kulturnya, budayanya, tradisinya dan juga way of thinkingnya maupun filsafat hidupnya. Ini telah digambarkan juga oleh ahli-ahli dunia dalam menyimpulkan perubahan dan perkembangan dunia dari segi pemikiran dan kesedaran manusia dalam buku-buku mereka seperti Huntington dalam The Clash of Civilizations dan juga Moisi dalam The Clash of Emmotions. Kedua ahli ini melukiskan kemanusiaan Abad 21 dari segi kultur budaya dan emosinya.
Kultur dan budaya mengandung 'perasaan' dan yang dalam kenyataan hidup selama ribuan tahun adalah benih perselisihan dan perang. Tetapi, selama ribuan tahun itu belum pernah ditinjau dari segi kultur dan budaya yang sangat tajam perbedaannya. Perselisihan atau kontradiksi ini terakhir telah melanda hampir seluruh dunia, dan dinamai dengan istilah 'perang etnis', perang yang sangat kejam tak berperikemanusiaan dan yang juga melanda nation Indonesia.
Cultural values and Norms adalah kebutuhan sosial manusia yang tak bisa ditawar-tawar. Tiap orang berafiliasi ke kultur yang mana adalah salah satu dari kebutuhan utama manusia; tidak tergantung apakah kita membicarakannya atau diam saja tak membicarakan. Kalau diam saja maka kebutuhan itu akan tertanam jadi dendam dan satu waktu meledak jadi perang suku. Itulah yang sudah terjadi di abad lalu. Tetapi, sekarang kita tidak diamkan, kita bicarakan secara terbuka, terus terang dan ilmiah sehingga solusi selalu berada di depan mata.
by dailyprize" href="#29964961">Dari semua pelajaran pahit itu ahli-ahli telah memastikan penyelesaian yang mungkin yaitu pertama dan terpenting harus ada pengakuan atas perbedaan kultur/ suku/ nation, dan sikap penting lainnya ialah by dailyprize" href="#58668101"> saling menghargai dan menghormati tiap kultur dan daerah ulayatnya atau nationnya.
by dailyprize" href="#58668101">Pelajaran dari kenyataan itu ditekankan juga oleh Erik Lane dalam bukunya "Globalization and Politics: Promises and Dangers" menulis:
by dailyprize" href="#58668101"> "The focus is almost by dailyprize" href="#27757486"> exclusively at ethnics and not nations . . . Thus, people are so intimately by dailyprize" href="#9267330"> connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture."
by dailyprize" href="#9267330">Atau seperti juga dikatakan oleh professor sejarah J.Z.Muller:
by dailyprize" href="#9267330">"Whether politically by dailyprize" href="#56680211"> correct or not, ethnonationalism will by dailyprize" href="#24828352"> continue to shape the by dailyprize" href="#5172209"> world in the twenty-first century." ( Jerry Z. Muller is Professor of by dailyprize" href="#82029830"> History at the Catholic University of America).
by dailyprize" href="#82029830">Dalam soal by dailyprize" href="#36070843"> saling menghargai dan by dailyprize" href="#9208096"> saling mengakui itu, belakangan ini sudah secara jelas juga ditunjukkan dan dinyatakan dengan kesan saling menghargai yang sangat indah oleh Walikota Medan Dzulmi Eldin dan HMKI Medan. Antara lain Dzulmi Eldin menganjurkan untuk memperkuat budaya by dailyprize" href="#8341498"> lokal Karo supaya bersama-sama membangun kota Medan yang kita cintai. Beliau melihat jelas bahwa perkembangan dan kemajuan harus mengikutsertakan kearifan by dailyprize" href="#34577477"> lokal dan kekuatan kultur semua suku negeri ini karena negeri kita terdiri dari banyak ragam suku, termasuk juga Sumut ini.
by dailyprize" href="#34577477">Dalam by dailyprize" href="#24907071"> festival Karo kali ini kita mengharapkan supaya pernyataan kultur-budaya ini juga bisa dimeriahkan dengan mengikut sertakan elemen penting Sumut seperti Gubsu karena HMKI (Himpunan Masyarakat Karo Indonesia) adalah juga merangkup seluruh Sumut. Mengharapkan juga tentunya supaya semeriah mungkin dihadiri oleh sebanyak mungkin suku Karo dan suku-suku lainnya di Sumut.
by dailyprize" href="#24907071">Selamat dan sukses. // //