Kolom M.u. Ginting: Persamaan Dan
Bhineka Tunggal Ika adalah satu ungkapan atau pepatah yang sudah lama kita kenal dan bahkan sudah jadi ungkapan luar-kepala dalam benak kita. Sering keluar dari mulut kita dimana saja dan kepada siapa saja, bahkan kepada orang asing yang tak pernah mendengarnya.
Beberapa tahun lalu ketika di Belanda ada bentrok etnis dengan orang asing, ada seorang dosen Indonesia bilang dengan bangga, kalau Indonesia punya ’obat’ dalam mengatasi persoalan begitu, yaitu Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila katanya. Pak dosen ini lupa kalau di Indonesia sendiri juga ’obat’ itu tak berlaku ketika perang etnis tempo hari di Indonesia.
Kita bangga dengan pepatah itu. Apa yang kita selalu jelaskan dengan sangat lantang dan bangga kepada orang asing juga ialah, bahwa kita berbeda-beda tetapi bersatu. Kita selalu membanggakan persatuannya, dan perbedaannya hanya dalam bentuk banyak pulaunya dan banyak sukunya. Apa perbedaan antara suku-suku itu tak ada yang berani ngomong karena tabu besar, dan tak bangga.
Membanggakan persatuan tetapi mentabukan perbedaan dengan momok sukuisme, primordialisme, SARA, dsb. Itulah selama ini pengertian yang kita pegang erat.
Zaman berubah, kesedaran berubah. Era ethnic revival atau cultural revival muncul dan revolusi kultural ini melanda seluruh dunia. Di negeri-negeri berkembang dan juga di Uni Soviet, bisa dikatakan terjadi perang etnis dunia, yang makan korban jutaan jiwa manusia, termasuk juga di Indonesia sebagai negeri kebanggaan Bhineka Tunggal Ika.
Korban banyak dan perang tak berkesudahan ini telah memaksa ahli-ahli dunia untuk pikir ulang dan bikin analisa lebih mendalam soal perbedaan suku/ kultur. Revolusi kultural ini bisa juga atau patut juga disebut revolusi perbedaan. Perbedaan inilah yang telah menyusup ke kepala semua orang sehingga tak mungkin lagi mentabukannya seperti era lalu.
Secara internasional, menabukan perbedaan tadinya tak lepas dari politik kiri internasional yaitu internasionalisme Abad 19 dan multikulturalisme Abad 20. Foto: Bukit Hijau Sekolah Alam[/caption]