Kolom M.u. Ginting: Plintat
”Dalam pertemuan Abraham dengan elite PDIP, menurut keterangan Hasto, Samad selalu menggunakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya”. Pernyataan Hasto ini sangat tidak serius walaupun maksudnya hanya untuk meyakinkan publik bagaimana lihainya Samad menyembunyikan perpolitikannya kalau-kalau ada kamera CCTV. Sementara orang tadinya juga memang meminta rekaman ini. Sampai sekarang juga belum muncul adegan masker Pak Samad.
”Tjahjo, yang kini menjabat Mendagri, menganggap wajar jika dirinya bertemu dengan Samad, karena dia bukan merupakan orang yang sedang berkasus di KPK. Menurut Tjahjo, pembicaraan dengan Samad, hanya omong-omong kosong saja,” rilis merdeka.com. berarti ada pertemuan, tetapi hanya pembicaraan ’omong kosong[/one_fourth]
Dengan pernyataan Tjahjo (Mendagri dari PDIP) berarti ada pertemuan, tetapi hanya pembicaraan ’omong kosong saja’. Dari situasi politik ketika Pilpres semua juga tahu kalau PDIP/Jokowi sibuk cari pendamping Jokowi supaya bisa dapat suara terbanyak dalam Pilpres. Jadi, masih bisa didiskusikan memang apakah Pak Samad atau PDIP/Jokowi lebih berkepentingan dalam cari Wakil Presiden. Kalau wakilnya dipasang Akil Mochtar tentu kalah.
Dalam soal pembocoran data BG, kata Wakapolri Badrodin Haiti perlu dicari pengkhianatnya, tukang pembocoran data. Data-data polisi tak boleh orang lain tahu katanya. Tetapi dia juga terlihat ada keraguan, dia bilang: "Tentu ada yang harus dilindungi berdasarkan UU, ada hal yang menjadi rahasia jabatan yang itu tidak boleh orang lain tahu. Ada klasifikasi apakah ini rahasia apa ini biasa sehingga ada data apa itu bisa orang lain tahu apa khusus internal Polri."
Yang jelas data yang dibocorkan ialah rekening gendut BG. Apakah ’rahasia’ atau ini ’data biasa’, tak ada kejelasan konkret dari Badrodin. .
Soal lain yang penting ialah sebagai akibat pembocoran data polisi itu, lantas terjadi pergeseran di polisi. Salah satu korbannya ialah Kabareskrim Suhardi Alius di Lemhannaskan. Apakah Alius jadi korban atau sengaja dikorbankan untuk melapangkan jalan bagi penggantinya (Budi Waseso)?