Kolom M.u. Ginting: Sebab
Betul juga yang dibilang Ray Rangkuti kalau di Polri ini tak ada aktor intelektualnya. Bagaimana bisa menyelidiki sebab utama pertengkaran antar etnis/ agama atau antara kultur berbeda? Antara pendatang dan penduduk asli pemegang tanah ulayat.
Sama halnya dengan di Kalteng/Kalbar. Persoalannya adalah antara pendatang dan penduduk asli. Pendatang dengan kulturnya berusaha mendominasi kekuasaan dan menguasai tanah-tanah ulayat penduduk setempat dengan dalih 'satu nusa satu bangsa'. Di sini, berlaku ethnic competition dan secara internasional dalam suasana 'multikulturalisme' ('multi kulti' kata PM Jerman Angela Merkel) yang sedang dalam puncak perkembangannya. Multi kulti yang anti primordialisme, anti kultur setempat.
Penduduk asli setempat ditakuti dengan 'sukuisme', 'daerahisme', SARA dsb. Ethnic competition ditutupi dengan multikulturalisme. Dominasi kekuasaan oleh pendatang dan pengambil alihan tanah ulayatnya ditutupi dengan 'satu nusa satu bangsa'.
Sebab yang terlihat menurut Jusuf Kalla ialah gara-gara speaker yang dianggap polusi suara. Dari dulu juga penduduk asli di sini tak pernah diributi dengan speaker. Pendatang yang lain agama bawa speaker untuk berhubungan dengan Tuhan, berlainan dengan penduduk setempat yang tak pakai speaker pengeras suara. Siapakah yang harus menyesuaikan diri, pendatang atau penduduk asli pemegang tanah ulayat? Carilah sebab utama konflik ini dari segi perbedaan dua kultur, dan keadilan berada di pihak siapa?