Kolom M.u. Ginting: Soekarno Dan Etnonasionalisme — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom M.u. Ginting: Soekarno Dan Etnonasionalisme

Budaya Kolom ·
Penampilan Sanggar Seni Sirulo di sebuah seminar internasional mengenai Global Warming di Hotel Tiara, Medan.[/caption] Ada pemikiran bagus dari Plt. Sekjen PDIP Hasto Kritiyanto yang menilai survei Poltracking sudah ditunggangi agenda politik de-Soekarnoisasi. Akan ada selalu usaha memecah dan menghancurkan partai lain, tak perlu heran.

"Mereka yang menyederhanakan survei kepemimpinan PDIP dengan mempersoalkan kepemimpinan trah Soekarno tidak menyadari bahwa Bung Karno memang hidup dalam kepemimpinan dan urat nadi PDIP," kata Hasto (Jakarta) di merdeka.com .

Lebih lanjut Hasto menjelaskan, sebagian besar anggota dan simpatisan PDIP bergabung ke partai karena menyatukan diri dengan ide, gagasan, perjuangan, dan cita-cita Bung Karno (BK). Menurut dia, sosok presiden pertama dan pendiri bangsa itu selalu hidup.

"Ide, jiwa dan gagasan BK bahkan tidak pernah mati karena menyatu dengan kondisi aktual bangsa. Karena itulah berbagai proyek politik sejak zaman Orde Baru tidak pernah bisa menyingkirkan BK dari hati sanubari rakyat," jelas Hasto. Penampilan Sanggar Seni Sirulo di Hari Ulang Tahun (HUT) MAMRE GBKP XVI di Sukamakmur, Sibolangit (2014)[/caption]

Memang jiwa Soekarno masih tetap hidup di PDIP dan juga dalam diri Megawati. Kepercayaan jiwa Bung Karno dalam diri Mega bikin dia tetap dipertahankan. Jiwa patriotisme dan nasionalisme Bung Karno memang masih hidup di Indonesia dan juga malah dalam gerakan nasionalisme seluruh dunia akhir-akhir ini meningkat lagi terutama di Eropah (Barat dan Timur).

Di banyak negeri Eropah Barat, partai-partai nasionalis ini telah menjadi partai besar ke 3. Padahal, selama ini, tak dihitung atau memang tak ada.

Terakhir di Pemilu kemarin di Perancis, Mart 2015, partai nasional ini malah sudah maju jadi nomor 2. Nasib partai sosialis yang selama ini di atas, telah jadi nomor 3. Proses 'kematian' sosial demokrat Eropah kelihatannya tak bisa dihambat lagi. Kelihatannya sejajar dengan kematian Marxisme, karena partai-partai ini punya dasar Marxisme. Marxisme sangat keras menentang sukuisme dan daerahisme[/one_fourth]

Partai sosialis sangat anti sukuisme dan nasionalisme. Kita punya pengalaman sejarah di Indonesia bagaimana partai-partai dengan ide Marxisme sangat keras menentang sukuisme dan daerahisme pada zamannya. Ini sejalan juga dengan ide liberal soal nasionalisme. Liberalisme menentang sosialisme, dan era sekarang muncul ethnonasionalisme menentang liberalisme maupun sosialisme. Keduanya, liberalisme maupun sosialisme, dalam perjalanan hilang ditelan zaman. "The core of the ethnonationalist idea is that nations are defined by a shared heritage, which usually includes a common language, a common faith, and a common ethnic ancestry." "Whether politically correct or not, ethnonationalism will continue to shape the world in the twenty-first century." (JERRY Z. MULLER Professor of History at the Catholic University of America). "Membangun nasionalisme dengan etnonasionalisme" (dr. Supredo Kembaren SpB di milis tanahkaro) "Perjuangan abadi antar-etnis dan Kekuatan Identitas" (MUG di milis tanahkaro) [/box]

Di Indonesia dan negeri-negeri berkembang lainnya, gerakan ethnonasional (sukuisme) yang juga telah menjadi thema sehari-hari dalam perkembangan negara-negara berkembang. KBB (Karo Bukan Batak) adalah bagian terpenting dari gerakan ethnonasional Karo. //