Kolom Paulus Jepe Ginting: Liberal Kapitalisme Di Pilkada — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Paulus Jepe Ginting: Liberal Kapitalisme Di Pilkada

Kolom ·
Kolom Paulus Jepe Ginting: Liberal Kapitalisme Di Pilkada

Era Reformasi membuka ruang rekrutmen pemimpin menjadi terbuka lebar. Konstitusi memberi jaminan bagi setiap warganegara dengan persyaratan minim dapat ikut serta dalam proses seleksi dan rekrutmen. Bermunculanlah orang-orang yang merasa bisa, tapi tidak bisa merasa, menjadi calon-calon pemimpin.

Tanpa sadar kita masuk dalam jerat Liberal politik yang mengganden g paham Kapitalisme. Siapa saja punya kapital silahkan ikut. Dari sudut pandang demikian, kita sulit menemukan gagasan besar untuk melakukan perubahan. Etika politik nasional dan kebangsaan kita adalah Pancasila. Demokrasi kesetaraan yang dijiwai oleh musyawarah mufakat memberi ruang secara mufakat sosial bahwa kita mendahulukan dan mendorong orang berkemampuan lebih untuk masuk dalam putaran proses seleksi kepemimpinan politik publik. Melalui cara ini, gagasan besar perubahan dapat lebih terjamin karena mereka yang masuk dalam proses tersebut justru didorong oleh yang lain dengan kesadaran yang logis.

Potret kekinian para calon di Pilkada Karo sejak awal telah masuk dalam perangkap Liberal Kapitalisme. Hal itu tampak nyata dari kerja-kerja politik yang dilakukan oleh Timses dan para pendukung untuk semua calon. Termasuk paparan mereka di medsos mengarah ke situ.

Semua bermuara pada kalkulasi waktu, energi dan finansial. Tak ketinggalan pencitraan demi pencitraan dilakukan secara masif dari waktu ke waktu sampai kita tidak melihat lagi keutuhan karakter, sikap hidup dan cita-cita dari calon. Terbenam dalam gempita pencitraan.

Akhirnya, kita akan sadar bahwa Karo tidak akan berubah secara signifikan. Kita harus siap untuk kembali stagnan syukur tidak mengalami deklanasi kesejahteraan di semua lini kehidupan di Kabupaten Karo.

Ini hanya catatan kaki penegas betapa kita lebih bodoh dari keledai. // //