Kolom Salmen Kembaren: Antara Bogor Dan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Salmen Kembaren: Antara Bogor Dan

Kolom Lingkungan ·
Kolom Salmen Kembaren: Antara Bogor Dan

Bupati dan Wakil Bupati Karo terpilih segera dilantik di semester awal Tahun 2016. Ratusan ribu penduduk tentunya menaruh harap bahwa pembangunan Kabupaten Karo benar-benar jitu dalam 5 tahun ke depan. Salah satu yang patut menjadi indikator kemajuan tersebut adalah pariwisata, selain pertanian dan sektor utama lainnya.

Ketika melakukan perjalanan ke Bogor seminggu lalu , saya melihat kemiripan antara Bogor dengan Berastagi maupun Kabanjahe. Kedua kota ini menjadi destinasi wisata utama warga kota metropolitan dengan segala kesibukan mereka. Dengan jarak tempuh, bentang alam, dan keunikan budaya memiliki kemiripan.

Perbedaan antara keduanya hanyalah dalam pengelolaan. Sekitar 10 juta warga ibukota negara menjadi potensi pasar wisata Bogor demikian juga sekitar 4 juta jiwa potensi wisata Berastagi di Mebidangkat (Medan, Binjai, Deliserdang, Langkat).

Bogor sendiri memiliki saingan berat seperti Bandung dengan jarak tempuh yang hampir sama sedangkan Berastagi tidak begitu memiliki saingan yang cukup sepadan. Sehingga muncul pertanyaan, mengapa kota kita tidak mampu sehebat Bogor? Saya merasa “panas” ketika rekan kerja saya mengatakan “hanya melihat sampah” ketika berkunjung ke Berastagi. Terutama yang mereka soroti adalah Gundaling dan Kabanjahe. Mereka selalu membanding-bandingkan kesemrautan kedua kota kebanggan Karo tersebut dengan kota kecil lainnya di belahan lain dari Nusantara ini. Khusus Kabanjahe, mereka merasa risih melihat pusat kota yang terkesan kumuh. Dalam kesimpulan awal saya, soal pengelolaan adalah soal good will pemerintahannya. Sebagai contoh saja, pengelolaan tugu dan taman yang sudah ada. Di Bogor, anda akan pasti ingin berfoto di tugu-tugu yang ada atau di sudut-sudut kota dengan tamannya yang hijau. Tidak demikian di Berastagi atau Kabanjahe, kita malah merasa “tidak nyaman” berfoto di Tugu Kol Berastagi atau Tugu Catur di Kabanjahe.

Demikan juga bisa kita bandingkan pengelolaan Kebun Raya Bogor dan Tahura di Tongkeh. Padahal potensi Tahura Tongkeh lebih lengkap mulai dari keanekaragaman hayati sampai air terjunnya.

Jangankan pengelolaan besar seperti itu, pilar tebing di Berastagi harus menunggu masa yang panjang untuk melihatnya indah kembali. Jika pemerintah mengelak karena alasan Bogor memiliki pemerintahan tersendiri maka tepatlah analisa good will pemerintah kabupaten yang lemah. Demikian juga budaya masyarakat yang dipasarkan bukanlah budaya yang dominan. Bogor memasarkan budaya Pasundan bukan Jawa, juga Berastagi dapat memasarkan budaya Karo bukan Batak sehingga menjadi keunikan pasar tersendiri. //

Berastagi, sebagai bagian dari pengembangan rencana tata ruang kawasan Mebidangro seharusnya memiliki daya saing internasional dan menjadi bagian pusat kegiatan nasional (Pasal 6 Perpres Nomor 62 Tahun 2011). Jangankan untuk bersaing dengan kelas international bahkan saat ini dengan kota-kota lokal lainnya saja masih ketertinggalan. Padahal Berastagi dapat memainkan peranannya dalam RTRW tersebut sebagai kawasan dengan pengembangan khusus yakni zona pariwisata Mebidangro.

Semoga pemerintahan yang baru ini paham dan mau membenahi salah satu sendi perekonomian Karo khususnya sektor pariwisata. Di akhir jabatan pemerintah sebelumnya, kita tidak melihat banyak gebrakan baru untuk penataan kota Kabanjahe dan Berastagi. Tentunya dengan pasangan yang baru ini, terlebih lagi seorang perempuan, harapan kita bersama membawa pencerahan bagi kedua kota tersebut agar lebih terlihat indah nan elegan. //