Kolom Wijayanto W. Aji: Eksistensialisme Ala
Kalau kita mencoba merunut perjalanan Jokowi dari mulai Walikota Solo hingga jadi presiden sekarang ini selalu bahasa eksistensialisme yang ingin ditunjukkan Jokowi kepada publik.
Eksistensi ala Jokowi selalu dibahasakan oleh simbol yang memaknai setiap langkahnya kepada publik. Dalam catatan kami, ada sekian langkah beliau yang kadang bahasa simbolnya berbeda tapi arahnya tetap satu tujuan yaitu keberpihakan.
Kalau kita mengenal gaya elit politik di tingkat nasional, yang lebih menonjolkan retorika dan lugasnya berargumen. Beda dengan yang dilakukan oleh Jokowi setiap bergerak. Kita mengenal seorang Soekarno yang meledak-ledak berapi-api memompa semangat rakyatnya. Kita juga mengenal sosok Soeharto dengan bahasa Indonesia unik dan kita mengenal Habibie yang logat Makasaran dalam memaknai sesuatu bahkan hingga sosok SBY yang sok inteleknya dalam membahas sesuatu. bahasa simpel[/one_fourth]
Jokowi punya bahasa simbolisasi yang beda dalam memaknai langkahnya yang ingin ditunjukkan ke publik melalui kemasan ala tim medianya yang diusung terus ke manapun beliau menjabat. Pada wilayah yang mungkin butuh retorika dengan media pun dibahasakan lewat bahasa simpel tapi sesuai tujuan untuk mengartikan langkahnya.
Apakah ini bagian dari kelemahan Jokowi dalam menyampaikan retorika atau pendapatnya?
Kalau menurut kami jelas tidak ,dan ini bagian dari strateginya membahasakan langkahnya di media. Masih ingatkah kita ketika Jokowi jadi Gubernur Jakarta? Begitu lancarnya dinamika retorika Jokowi dalam memerankan posisinya di hadapan media sebagai ajang eksistensialisme ala Jokowi. Seolah-olah semua pertanyaan media dimakan habis tanpa jeda yang diibaratkan pengin menunjukkan ke publik bahwa dia siap bersaing di kancah nasional.
//
Namun, ketika sudah jadi presiden, pada awal setelah dilantik masih menunjukkan kelancaran retorikanya. Tapi, setelah sekian bulan bahasa retorika di media, semacam patah-patah kayak mengingat sosok Moerdiono yang lagi jadi juru bicara Soeharto. Setelah diamati, ternyata komentar-komentar beliau di hadapan media yang seolah berani mengambil eksekusi keputusan secara cepat tanpa terpengaruh tekanan publik, maka retorika berjalan dinamis dan lancar. Tapi, ketika ada kebijakan yang mungkin ada tekanan publiknya dan belum bulet dalam eksekusi keputusan, maka logat bicaranya kembali patah-patah nunggu berhentinya lama banget.
Yang memperlancar semangatnya berargumen di hadapan media biasanya berkaitan dengan langkah-langkah mensukseskan program infrastruktur serta berbagai terobosan yang mungkin salah satu idenya dari Jokowi. Tapi, yang di luar itu coba cermati dech, pasti nunggu statement satu dua kalimat saja proses bicaranya lama semacam telat mikir padahal pengin cari bahasa yang pas saja. Secara garis besar, eksistensialisme ala Jokowi mayoritas dibahasakan oleh simbol yang bisa diartikan publik yang fokus pendekatannya simbol keberpihakan, terutama simbol memaknai kerakyatan ala Jokowi. Tinggal nanti tim media beliau bersama teman media nasional lainnya memaknainya dalam artikulasi konteks kejadiannya
Begitulah eksistensialisme ala Jokowi kadang juga sulit ditebak arahnya. Tiba-tiba bikin kejutan bahagia pada rakyatnya dan itulah yng menjaga keberadaan momentum adanya Jokowi terus menggelinding menjadi energi partisipatoris bagi pendukungnya dan rakyat pada umumnya. Karya CS REFORM # EdisiPengantarEvaluasiSetahunJokowiJK # MasihBersambung // //