Kolom Wijayanto W. Aji: Se Haters Speech, Upaya Kembalikan
Sejak bangsa ini melakukan pembelajaran berdemokrasi pasca era Reformasi digulirkan, banyak sekali pembelajaran proses demokrasi di dunia nyata yang mulai menemukan bentuknya. Namun, ketika munculnya media sosial mulailah demokrasi Indonesia seakan terjadi ekspresi kebebasan yang mulai kebablasan karena dianggap bisa melakukan komunikasi tanpa terbentur ruang dan waktu. Ini menyebabkan para netizen bebas berkomentar dengan siapapun tanpa harus bertatap muka dengan orang yang diajak komunikasi. Ketika komunikasi dengan pejabat bahkan presiden sekalipun sangat mudah untuk melakukan komunikasi secara transformatif. Namun, karena saking bebasnya proses komunikasi tersebut yang seolah tanpa aturan baku, sehingga dengan mudah melampiaskan kepenatan hidup di dunia maya tanpa harus terjebak norma yang berlaku bahkan aturan yang ada di dunia rill. Seolah-olah saling serang, saling hujat, saling fitnah menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan media sosial.
Dalam aturan tersebut selama ada yang melaporkan akan ditindaklanjuti sama kayak SE Haters Speech. Mengapa kita semua harus heboh menyikapinya? Terlepas apapun kontranya terhadap SE Haters Speech, ada hikmah positif dari edaran tersebut agar bersama-sama memiliki kesadaran kolektif untuk kembali ke budaya ketimuran; budaya saling menghargai satu sama lain, bertoleransi, tenggang rasa antar suku ras dan agama yang berbeda dan juga saling menghargai saat mengkritik ketika beda pilihan politik.