Kolom Wijayanto W. Aji: Strategi Konflik Pdip Penuh Resiko,
Dari latar belakang tersebut kebanyakan pemilih Jokowi tidak otomatis pemilih PDIP. Bahkan relawan Jokowi yang menjadi pengikut setia Jokowi sejak pilihan gubernur hingga presiden rata-rata bukan basis dukungan PDIP melainkan hanya akan memperjuangkan kesuksesan Jokowi memimpin negeri ini dibanding memperjuangkan PDIP yang merupakan "rumah idiologi" Jokowi. Relawan netral yang dulu merupakan kelompok independen, yang pernah anti politik praktis, sejak munculnya fenomena Jokowi merasa tergerakkan memperjuangkan pemimpin rakyat untuk menang Pilpres.
Cuma yang perlu diwaspadai ketika strategi konflik tidak mampu dimanage dengan baik maka akan jadi bom waktu bagi kekacauan politik nasional ketika para oposan mengambil celah dari strategi PDIP ini. Contohnya, dalam merespon suara sumbang ternyata kader PDIP yang diposisikan sebagai corong kritis ternyata masih sebatas menangkap respon suara sumbang publik tapi belum bisa jadi solusi terhadap ketidakpuasan suara publik. Sebuah cafe di Padangbulan, Medan (Foto: ITA APULINA TARIGAN)[/caption] Fenomena-fenomena penyikapan ala PDIP gaya baru seperti penyikapan BBM, manajemen pemerintahan hingga soal korupsi, masih belum menyentuh suara terobosan ala legislatif PDIP dan hanya menyuarakan kritik pedas tanpa solusi. Seharusnya ujung dari strategi konflik PDIP yang penuh resiko harusnya menyentuh pada variabel solusi dari suara sumbang publik.
Maka PDIP harus punya ide-ide terobosan sebagai bentuk ijtihad politik baru dalam merespon suara sumbang publik dan dalam memaknai PDIP bukan "Tukang stempel" Jokowi. Intinya, harapan publik bahwa politik harus terus dinamis kritis dan transparan demi menuju pendidikan demokrasi yang mencerdaskan bagi rakyat. Untuk itu, agar eksistensi PDIP ingin terus diakui publik, berikan terobosan-terobosan baru yang mencerdaskan bagi rakyat demi ujungnya indonesia lebih baik # SalamPencerahan Salam Hormat kami : CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESSIF MOVEMENT ( CS REFORM ) //