Ktn Dan Antusiasme Karo Merayakan Kemerdekaan Ri
Saya tahu dari orang-orang tua di keluarga kami bagaimana mereka semua harus melarikan diri mengungsi dari rumah-rumah mereka (waktu itu semua masih rumah adat) karena setiap kuta (kampung Karo) dibakar. Mereka menceritakan bagaimana mereka harus menginap di hutan belantara Lau Gedang di kaki Gunung Sibayak. Sampai ada yang anak-anaknya salig tertukar. Sementara tentara-tentara pria dan wanita semua lari terbirit-birit menghindari bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur Belanda.
Mereka sangat menderita. Ada pula yang disengat lateng (jelatang). Ada bayi menangis sampai semua pengungsi yang tinggal dalam satu “sapo ” mengusulkan menyumbat mulutnya karena di atas mereka banyak pesawat Belanda yang seketika bisa menjatuhkan bom.
Saya juga mendengar orang-orang Pancurbatu semua berjalan menuju Kutacane dan mereka banyak yang berpencar dari keluarga mereka. Ini semua dilakukan karena semangat juang orang Sumatera Timur terutama orang-orang Karo/Indonesia di bawah komando Kol. Jamin Ginting. Tetapi tentara guerilla masih berkeliaran di hutan-hutan Karo Jahe (Karo Hilir). Ayah saya sendiri ditugaskan di Desas Bukum, Karo Jahe (Karo Hilir) yang sekarang diubah menjadi Kabupaten Deliserdang.