Ktn Dan Antusiasme Karo Merayakan Kemerdekaan Ri — Sorasirulo
Sorasirulo

Ktn Dan Antusiasme Karo Merayakan Kemerdekaan Ri

Budaya ·
Oleh: Herlina Surbakti (Medan) Silahkan klik foto untuk ukuran lebih besar.[/caption] Kalau kita perhatikan Peta Indonesia di sebelah kanan ini, pada waktu itu, semua daerah yang berwarna biru adalah daerah di bawah kekuasaan Belanda. Sebagian besar Pulau Sumatra sudah menjadi bagian Republik Indonesia. Tidak heran kalau kita orang Sumatera Timur memang harus bekerja extra untuk memerdekakan Indonesia.

Saya tahu dari orang-orang tua di keluarga kami bagaimana mereka semua harus melarikan diri mengungsi dari rumah-rumah mereka (waktu itu semua masih rumah adat) karena setiap kuta (kampung Karo) dibakar. Mereka menceritakan bagaimana mereka harus menginap di hutan belantara Lau Gedang di kaki Gunung Sibayak. Sampai ada yang anak-anaknya salig tertukar. Sementara tentara-tentara pria dan wanita semua lari terbirit-birit menghindari bom-bom yang berjatuhan dari pesawat tempur Belanda.

Mereka sangat menderita. Ada pula yang disengat lateng (jelatang). Ada bayi menangis sampai semua pengungsi yang tinggal dalam satu “sapo ” mengusulkan menyumbat mulutnya karena di atas mereka banyak pesawat Belanda yang seketika bisa menjatuhkan bom.

Saya juga mendengar orang-orang Pancurbatu semua berjalan menuju Kutacane dan mereka banyak yang berpencar dari keluarga mereka. Ini semua dilakukan karena semangat juang orang Sumatera Timur terutama orang-orang Karo/Indonesia di bawah komando Kol. Jamin Ginting. Tetapi tentara guerilla masih berkeliaran di hutan-hutan Karo Jahe (Karo Hilir). Ayah saya sendiri ditugaskan di Desas Bukum, Karo Jahe (Karo Hilir) yang sekarang diubah menjadi Kabupaten Deliserdang.

Pada suatu hari tanggal 23 Maret 1949. dia dan dua orang temannya pergi berjalan-jalan sambil patroli berjalan kaki, naik dan turun gunung. Mereka adalah Letnan Tereteh Ginting, Sersan Renggem Sembiring, dan Sersan Patut Surbakti. Saya tidak pernah dengar kalau mereka memang menunggu. Saya dengar, mereka kebetulan mau melihat-lihat keluar dari Desa Bukum. Tiba-tiba mereka melihat Jeep berwarna putih meluncur dari arah Medan menuju Berastagi. Penumpangnya adalah ketiga anggota KTN, terdiri dari sorang Belgia, seoran Australia dan seorang Amerika dan supirnya seorang tentara Belanda. Si supir menyumpah. Anggota KTN berteriak: “Jangan tembak! Jangan tembak! Kami KTN. Kami KTN!” teriaknya.

Jawab ketiga tentara yang orang Karo ini: “KTN pé seri nge ko kerina .” (Mau KTN mau apa semua kamu sama).

Rupanya kejadian ini membawa berkah bagi Indonesia. Berkat bantuan KTN akhirnya diadakanlah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag untuk meembicarakan Kemerdekaan R.I. Semua pejabat dari pusat sangat berterimakasih kepada Suku Karo. Muhammad Hatta menulis surat, Hamenkubuwono mengunjungi Taneh Karo, Sukarno juga menjadi sangat dekat dengan Suku Karo. Orang Karo pun sangat mencintai Sukarno.

Pada masa pemerintahan Sukarno, sangat banyak mahasiswa asal Karo yang dikirim ke luar negeri. Sesudah tahun 1965, bulan madu Kemerdekaan pun berakhir dengan tragis. Suharto balas dendam bahkan dia menuduh Orang Karo adalah Komunis! Dan, sejarahpun diputar balik.

Sekarang sudah waktunya kita meluruskan sejarah, jangan biakan orang lain yang menentukan siapa kita. Dunia sudah berubah dan tunjukkan kemampuan kita. Mejuah-juah. SELESAI // // "); // ]]>