Mahasiswa Karo Diantara Intelektualitas Dan Pilkada — Sorasirulo
Sorasirulo

Mahasiswa Karo Diantara Intelektualitas Dan Pilkada

Budaya ·
Mahasiswa Karo Diantara Intelektualitas Dan Pilkada
Oleh: Salmen Kembaren (Sosiolog) Mahasiswa Karo FISIP USU[/caption] Pertanyaannya adalah, apakah mereka paham tanggung jawab moral intelektual mereka? Apakah mereka telah memiliki kepentingan politis? Apakah mereka sudah begitu apatis terhadap kebijakan publik dan aktivitas politik?

Dari seluruh mahasiswa dan para sarjana Karo mungkin hanya beberapa yang masuk kategori intelektual. Dari segelintir inilah seharusnya datang perjuangan gigih untuk kebenaran. Tapi, kenyataannya, terkesan ada pembiaran politik dari kelompok ini.

Orang-orang bicara bahwa arus money politic begitu kuat di era ini. Namun, berapakah kasus money politic yang ditangani pihak berwajib? Berapakah jumlah kasus yang dilaporkan Bawaslu? Masakan tidak ada mahasiswa atau sarjana seorang saja pun setiap desa? Mahasiswa latihan menari untuk acara Gendang-gendang Gurog-ruo Aron.[/caption]

Kaum intelektual telah menjual pikiran mereka. Menjual kepada sebuah “diam” yang abadi. Imbasnya adalah sebuah kejahatan missal atau saya sebut “kejahatan berjamaah” atau “kinilaulin sirulo”. Tampaknya semua orang “diam” saja melihat ketidakbenaran ini. Juga kaum rohaniwan sekalipun diam yang jelas-jelas tugasnya adalah menyuarakan kebenaran.

Kepentingan merupakan jawaban akhir dari semua ini. Partai politik dengan kepentingan mereka. Para calon memiliki kepentingan pribadi dan kelompok mereka. Siapa lagi yang memikirkan kepentingan suara mayoritas kalau begini? Mereka adalah kelompok yang semi sadar untuk politik[/one_fourth]

Inilah seharusnya ruang bagi kaum intelektual untuk memperjuangkan kepentingan suara mayoritas, bukan kepentingan partai atau kepentingan calon. Sedangkan rakyat, kepentingan mereka adalah nyata. Politik merupakan kepentingan yang sentuhannya teramat jauh dari mereka padahal sesungguhnya begitu dekat dan nyata. Mereka adalah kelompok yang semi sadar untuk politik dan tugas intelektuallah untuk menyadarkan mereka sepenuhnya.

Intelektual Karo diberikan dua pilihan yang amat sulit dan harus tegas. Pilihan pertama dan memang seharusnya, mahasiswa Karo memiliki sebuah pergerakan untuk memecah ke”diam”an akan ketidakbenaran politik, terutama diam tentang money politik. Pilihan kedua, pilihan terburuk atau sering disebut penghianatan kaum intelektual, adalah menjual intelektual mereka keada sebuah diam atau terlibat dalam ketidakbenaran.

Sebuah ungkapan Suku Karo berkata: “Bagi kerbo Penampen, taren natap lupa nggagat ”. Saya melihat posisi mahasiswa atau kaum intelektual kita persis seperti ungkapan tersebut. Mereka terkesima dengan situasi hidup mereka masing-masing atau memiliki kesibukan pribadi. Kita hanya sedang mempertaruhkan generasi kita jika demikian.

Gendang-gendang bukan tidak penting, tapi pencerahan politik masyarakat Karo juga tidak kalah pentingnya untuk mewariskan peradaban Karo yang luhur.

SELESAI // //