Mahasiswa Karo Ke Makam Pendiri Kota
Dia adalah seorang putra Karo yang mendirikan Medan di tahun 1590 M dengan mendirikan kampung di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Di kampung ini dulunya banyak orang sakit. Dia berjasa mengobati orang-orang sakit.Karena itu, kampung ini dinamai Madan, sebuah kata dari bahasa Karo yang artinya sembuh. Kata madan yang berarti sembuh dari penyakit tidak didapati dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Batak kecuali dalam bahasa Karo. Di sisi lain, di dalam tradisi Karo, bila muda-mudi hendak merayakan acara seni tahunan yang disebut guro-guro aron (permainan muda-mudi), terlebih dahulu mengadakan ziarah ke kuburan keluarga dan juga tempat-tempat keramat dari kampungnya (buahuta-huta kuta ). Atas dasar tradisi inilah, mahasiswa Karo yang tergabung di IMKA Erkaliaga Fakultas Hukum USU Medan berziarah ke Makam Guru Pa Timpus.
Setiap kampung Karo (kuta ) didirikan oleh 4 merga yang berbeda yang nantinya menempati 4 tempat tinggal di rumah adat yang disebut jabu suki; bagian Pangkal Kayu ditempat oleh merga yang menjadi Sembuyak dari tanah (anak taneh ), bagian Ujung Kayu ditempat oleh Anak Beru dari tanah (anak beru taneh atau disebut juga singerakut bide ), bagian Seberang Pangkal Kayu ditempat oleh kalimbubu dari tanah (kalimbubu taneh atau disebut juga simajek lulang ), dan bagian Seberang Ujung Kayu ditempati oleh merga yang menjadi Senina dari tanah (senina taneh atau disebut juga senina ku ranan ). “Keempat merga inilah yang menjalankan roda pemerintahan kampung Karo,” kata Ketua Panitia Guro-guro Aron IMKA Erkaliaga FH USU Joyiessandi Karo Sekali. Dari kiri ke kanan: Ishak Sembiring, Josua Opaldi Bangun, Esi Agnes Pencawan, Ria Anggreani Barus, Laura Tarigan, Joyiessandi Karo Sekali (Ketua Panitia Guro-guro Aron), Tommy A. Sinulingga (Ketua IMKA Erkaliaga FH USU). Foto: Regina beru Tarigan[/caption] Selanjutnya, Joyiessandi menuturkan, makam yang mereka datangi dipandu oleh tradisi lisan yang dikenal oleh warga sekitar dan orang-orang yang sebelumnya sudah pernah ke sana. Sebagaimana Sora Sirulo juga mengikuti ziarah ini, makam ini berada di antara ladang-ladang warga yang kebanyakan ditanami pisang tak terawat dan sangat memprihatinkan. Makamnya berupa gundukan tanah saja dan ada batu di sisi kaki dan sisi kepala saja sebagai batu nisan tetapi tidak memiliki nama.