Media Sosial : A Silent — Sorasirulo
Sorasirulo

Media Sosial : A Silent

Budaya ·
Media Sosial : A Silent
Oleh: Bintara Tarigan Silangit (Medan)

Demam media sosial sekarang sudah hampir berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Disuguhi berbagai fitur menarik oleh para pencari untung itu, semakin membuat para pegiat med-sos menggila. Kehidupan dunia nyata seolah diciptakan dan dipertahankan untuk menjadi bahan interaksi di med-sos.

Fenomena dampak med-sos hampir memasuki segala lini kehidupan manusia. 1. Makan

Kalau dulu makan adalah salah satu aktivitas wajib untuk mempertahankan hidup, maka sekarang, update foto makanan ataupun foto saat makan menjadi aktivitas wajib untuk mempertahankan eksistensi di dunia maya. Orang terlihat cenderung lebih menikmati foto makanannya mendapat tanggapan dari kawan dunia maya mereka dibandingkan rasa dari makanan itu sendiri. 2. Keluarga

Kalau dulu keluarga menjadi wadah interaksi paling utama antara orangtua dan anak, sekarang masing-masing anggota keluarga seolah lebih sayang gadget daripada anak ataupun orangtua mereka.

Suami-istri lebih memilih memposting kelebihan pasangan masing-masing di med-sos daripada menyampaikan langsung kepada pasangannya. Si anak juga lebih suka memprotes orangtua mereka di med-sos daripada menjalankan perintah orangtua. Bahkan, ketika seorang anak sakit perut misalnya, si orangtua lebih memilih bertanya pada kawan mereka di med-sos dibandingkan bertanya kepada dokter, atau bahkan suami/istri sendiri.

Orang yang sedang berpacaran juga tidak mau ketinggalan. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan kawan dunia maya mereka dibanding pacar sendiri, meskipun saat makan malam berdua, di tempat paling romantis sekalipun. 3. Kawan-Kawan

Ketika memutuskan untuk berkumpul dengan kawan-kawan yang telah lama tidak bertemu, mereka pasti tidak lupa membawa gadget dan peralatan publikasi lain seperti tongsis. Acara (katakanlah) reuni hanya akan berisi pamer gadget dan kawan facebook atau twitter mereka yang telah sukses. 4. Kantor/Lingkungan Kerja

Jika merasa ada yang tidak beres dengan lingkungan kerja mereka, facebook atau twitter akan menjadi kawan yang paling setia untuk mendengarkan keluh kesah. Namun, tidak jarang ada karyawan yang dipecat akibat postingan di facebook ataupun ciutan di twitter. Mereka sepertinya lupa bahwa pimpinan mereka juga aktivis med-sos. 5. Pakaian

Lebih tepatnya disebutkan fashion. Kebutuhan primer ini rupanya juga sudah menjadi kebutuhan primer di dunia med-sos.

Ada anak gadis yang memaksakan kehendak hatinya untuk membeli pakaian mahal. Mereka lebih takut dibully di med-sos gara-gara fashion yang ketinggalan zaman dibanding karma ataupun kutukan seperti yang dialami oleh Malin Kundang. 6. Selfie

Inilah aktivitas yang paling adiktif. Difasilitasi oleh kecanggihan aplikasi kamera, seorang pengasuh jerawat akan terlihat sangat cantik luar biasa. Hanya dengan bermodalkan satu gadget yang termasuk dalam kategori smartphone, maka seluruh perempuan akan dapat terlihat sangat cantik luar biasa.

Sadar atau tidak, aktivitas di dunia maya telah membunuh secara perlahan dunia nyata. Sadar atau tidak sadar, media sosial (kali ini tidak saya singkat) secara diam-diam telah menjadi pembunuh.

Jujur, ini bukan curhat, ini hasil observasi. Silakan tambahkan pengalaman kalian atau kalau malu, bilang saja itu hasil observasi. //