Menepis — Sorasirulo
Sorasirulo

Menepis

Budaya ·
Oleh: Superta Tarigan Dua penari Sanggar Seni Sirulo yang sekaligus juga musisi dalam penampilan sanggar ini di Kerja Tahun Tanjung Barus, Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung)[/caption] Beberapa kategori yang tidak luput dari pembahasan: 1. Merujuk kepada asal usul sat , yaitu Siraja Batak. Belakangan ini, rujukan seperti ini sudah menjadi berita konyol, karena hanya ilustrasi dari W.M. Hutagalung. Tentu saja kita harus memahami bahwa seantero Karo tidak berasal dari satu garis keturunan atau kelompok. 2. Persamaan kebudayaan dan tradisi, yaitu Dalihan Na Tolu dan Rakut Sitelu.

Belakangan ini juga dianggap sudah termasuk data pembodohan, karena menjadikan kebudayaan dan tradisi Karo menjadi kerdil. Faktanya peradatan Karo tidak akan berjalan tanpa sistem Sangkep Nggeluh (yang terdiri dari 1. Sembuyak, 2. Anak beru, 3. Kalimbubu, 4. Senina) bukan Rakut Sitelu. 3. Keyakinan.

Sebenarnya ini adalah hal yang paling tidak pantas untuk dibenarkan. Jika kita berbicara tentang Karo, kita harus berangkat dengan tanpa menyertakan atribut atribut keyakinan samawi, apalagi Karo sendiri juga mempunyai keyakinan tersendiri (Pemena).

Oleh sebab itu, agar dapat sejalan dengan segala hal tentang Karo, segala sesuatunya yang berhubungan dengan keyakinan individu harus dinomorduakan. Jikalau perlu, cukur jenggot dulu agar tidak terlihat seperti kebakaran jenggot dalam membahahas segala hal tentang Karo. Silat Karo (ndikkar ) yang masih tetap diupayakan bertahan/ lestari.[/caption]

Dari ke tiga bagian di atas inilah yang sering kita hadapi tentang pembatakan. Bukan tak sedikit pula yang internal kita menganggap ini tidak penting. Mungkin dengan latar belakang adanya hubungan darah dari Suku Batak. Sangat disayangkan jika kelak ada pernyataan yang membenarkan Karo adalah Bugis karena pertalian darah beberapa individu di internal Karo.

Ditambah lagi dengan yang sering ngamuk-ngamuk karena tidak mengerti arti dari perdebatan. Mungkin karena perdebatan dirasa hanya untuk perubaten (pertikaian), padahal perdebatan adalah adu argumen yang diharapkan bisa menjadi pembanding tentang apa yang kita pahami dan apa yang dipahami oleh sesama pelaku debat dalam konteks judul perdebatan.