Mengapa Ekowisata Karo?
Karo berada di dataran tinggi dengan biodiversity yang tinggi, suhu yang lebih sejuk, topografi yang beragam; mulai dari landai sampai sangat curam. Masyarakat memandang hutan sebagai pendukung kehidupan utama mereka. Masyarakat memanfaatkan tumbuhan di hutan sebagai obat bukan mengambil pohonnya.
Dosen saya suatu kali bertanya apa perbedaan cara pandang orang Karo dengan orang Batak dalam pengelolaan hutan. Menurutnya, orang Karo lebih bijak dalam menilai hutan. Mereka hanya mengambil tumbuhan obat dan kompos untuk jagung mereka. Berbeda dengan orang Batak yang menebang hutan untuk menanam jagung.
Kam tentu paham maksud saya. Potensi alam dan pola pikir masyarakat Karo yang bijak tentu sangat mendukung dalam pengelolaan ekowisata. Mengapa harus mahal-mahal membenahi wisata di kota kalau wisata alam lebih menarik?
Di sini, saya jabarkan jalur wisata yang saya tahu untuk dikembangkan dan mungkin bisa kam tambahi:
by cheap4all" href="#73363336">Jalur Wisata Penatapen Sikulikap. Di Sikulikap, kam bisa menikmati jalur hutan alami dan pemandangan air terjun Sikulikap. Rimbapala (Mapala Kehutanan USU) melakukan kegiatan berkemah di Sikulikap[/caption] Di sebelah Sikulikap kam bisa melakukan panjat tebing dan berkemah di hutan Sikulikap. Hutan di sini sangat rimbun dan menyediakan kayu bakar dari cabang pohon yang bisa digunakan untuk bakar-bakar. Perlu dilakukan penelitian terhadap wisata Tubing (jeram melakukan ban). Kam bisa dekat dengan satwa monyet. Kendalanya, sampah yang berserakan di bawah air terjun. Jalur Wisata Air Terjun di Hutan Pendidikan USU di Tahura. Sebelah kiri dari Medan terdapat Hutan Pendidikan USU yang di dalamnya ada air terjun setinggi 4 meter. Airnya sangat jernih. Jalur ini memiliki topograpi yang landai sampai sangat curam.