Menonton 'the Look Of Silence' Di Tv — Sorasirulo
Sorasirulo

Menonton 'the Look Of Silence' Di Tv

Berita terkini Hukum ·
Menonton 'the Look Of Silence' Di Tv
Johra Hoogendoorn (Zaandam, Nederland)* Setelah menonton film dokumenter tentang peristiwa 1965, Adi pria paruh baya (44) mengunjungi para pembunuh yang terlibat dalam pembunuhan massa di tahun itu. Adi adalah adik Ramli yang terbunuh pada peristiwa berdarah itu.

Dari cerita ibu Adi dan juga cerita sang pembunuh, Ramli disiksa dan ditikam tapi sempat melarikan diri. Namun sayang, Ramli dijemput di rumah oleh para pembunuh yang menamakan diri mereka pahlawan negara . Ramli akhirnya meninggal setelah kemaluannya dipotong.

Dari semua ex pembunuh peristiwa 1965 yang Adi temui, tak satupun diantara mereka yang merasa bertanggungjawab atau merasa bersalah. Bahkan mereka sangat bangga dengan apa yang mereka telah lakukan. Mereka pun mengaku sangat disegani dan dihormati sampai sekarang. Orang-orang kampung sangat takut dan hormat pada mereka.

Pak Inong, seorang agamawan yang ex pembunuh mengaku membunuh karena kaum PKI adalah orang-orang tak beragama dan perlu dihabiskan. Pak Inong mengaku telah meminum darah para korbannya supaya dia tidak jadi gila karenanya. Para ex pembunuh yang memperagakan bagaimana mereka memperlakukan tahanan saat itu; menyeretnya ke hilir sungai untuk dipenggal.[/caption] Amir Siahaan, yang adalah komandan pada eksekusi Sungai Ular, malah meminta balas jasa, bahwa jasa-jasa mereka seharusnya dibalas dengan mengirim mereka jalan-jalan ke Amerika naik kapal terbang atau naik kapal cruise. Dia mengaku telah mengubur hidup-hidup para tahanan PKI. Pak Siahaan ini orang kaya raya di kampungnya. Diapun mengaku bahwa banyak orang-orang yang mengirim batu, semen dan lain-lain ketika dia membangun rumahnya. Katanya ini semua balasan atas perbuatan baiknya.

Ketika Adi meminta tanggungjawab Pak Siahaan atas kematian kakaknya Ramli, Pak Siahaan mulai emosi dan merasa dirinya tak bertanggungjawab. Semua tanggungjawab pemerintah, katanya. Yang Pak Siahaan maksud adalah pemerintah Orde Baru.

Sambil menahan emosi dan air mata, Adi pun bertanya pada Pak Siahaan: "Seandainya aku berbicara di Orde Baru sama bapak, apa yang bapak akan lakukan?" "Saya nggak bisa bayangkan apa yang terjadi," jawab Pak Siahaan.

Dari jawaban Pak Siahaan kita sudah tahu bahwa memang pemerintahan Orde Baru adalah pemerintahan diktator. Siapa yang berani bertanya dengan tujuan mencari kebenaran, akan dihadang. Karena memunculkan kebenaran, berarti memunculkan dosa Soeharto. Dan, ini tidak boleh !!!

2 dari ex pembunuh mengaku bahwa perjuangan ini adalah perjuangan rakyat, bukan aksi ABRI atau pemerintah. Tapi kita semua tahu siapa backingnya di belakang. Mereka (pemerintah) menjaga diri utk mengindari amarah dunia, jelas mereka. J I J I K aku melihat ex pembunuh ini yang menceritakan aksi pembunuhan yang dia lakukan sambil tertawa.[/caption] Pak M.Y. Basrun yang adalah ex Sekretaris Jenderal aksi 1965 itu, yang menjabat sebagai ketua DPR sejak thn 1971 meminta kepada Adi untuk tidak lagi mengungkit masa lalu. Karena, jika masa lalu itu diungkit, bisa timbul lagi peristiwa yng sama. Pak Basrun akui tidak mungkin rakyat memilihnya jadi anggota DPR jika rakyat dendam terhadapnya. "Bisa jadi anda terpilih karena tekanan-tekan," tanya Adi. "Oo tidak! " jawab Pak Basrun. Pak Basrun hanya memesan pada Adi,"Rubah!"

Di menit-menit terakhir film dokumenter ini terlihat Adi mengunjungi pamannya (adik ibunya).

Ternyata si paman ini adalah penjaga tahanan PKI waktu itu.

Adi pun bertanya pada pamannya kenapa tidak membela Ramli ponakannya saat itu? Si paman mengaku tidak punya daya. Dia hanyalah abdi negara yang menjalankan tugas sebagai penjaga tahanan. Jika dia membela Ramli, dia akan bisa dibunuh juga. * * * *

Ach, saya menangis saat menonton film dokumenter yang berdurasi sekitar 1 jam 40 menit ini. Kok ada ya manusia yang sadis seperti ini? Pak Kemat ... Dia juga tahanan tapi sempat melarikan diri dan terhindar dari pembunuhan. Dia menganjurkan pada Adi untuk memaafkan masa lalu. "Maafkan mereka yang telah berbuat sadis terhadap kita ... Seumpama koreng, koreng itu telah sembuh dan jangan dikorek-korek lagi," tegasnya .[/caption] Ibu dan keluarga Adi menasehatkan pada Adi supaya berhati-hati karena orang-orang ex pembunuh itu masih punya kuasa. Mari kita doakan supaya peristiwa 1965 tidak terjadi lagi. Seperti kata Pak Bahrun "RUBAH". Karena kebanyakan pelaku pembunuhan adalah mereka orang awam yang telah dihasut dengan propaganda. Ini pelajaran buat kita, jangan lagi mau dipropagandai!! Sejarah yang benar perlu kita pelajari supaya kita bisa berbenah diri, tapi KITA TIDAK HARUS DENDAM, apalagi membalas dendam. Balas membalas akan menimbulkan perang saudara antara kita. * Penulis adalah wartawan Sora Sirulo untuk Belanda asal Toraja. //