Monyet, Pisang, Uang Dan
Bagaimana dengan monyet? Apakah monyet juga memiliki kemampuan berpikir abstrak? Monyet memiliki kemampuan untuk berpikir abstrak, namun kadar berpikir konkretnya jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan berpikir abstrak. Dalam mengambil keputusan, monyet akan lebih banyak mempertimbangkan sesuatu yang bisa dilihat dan ada secara fisik. Contohnya, monyet yang diberi makan pisang dalam jumlah sangat banyak tidak akan bersedia menukar pisangnya dengan benda lain, sekalipun pisang miliknya berlebih. Itulah sebabnya monyet belum sampai pada peradaban jual-beli barang (re:pisang) dengan cara tukar-menukar alias barter, apalagi pada tahap penggunaan uang.
Hal ini menjadi menarik karena manusia bisa menyepakati nilai sekeranjang buah dengan beberapa lembar kertas yang bersama-sama disetujui sebagai uang. Peradaban ini kemudian berubah lagi menjadi masa dimana uang tidak lagi diperlukan secara fisik. Keberadaan uang secara fisik hanya ada di dalam Bank atau Lembaga Keuangan, namun kepemilikan, daya tukar, dan nilainya dapat digunakan dan dipindahkan secara virtual. Tabungan adalah wujud kemampuan abstraksi manusia yang sudah sangat jauh melampaui monyet sebagai sesama ordo Primata . Manusia bersedia membeli dan menjual pisang dengan menggunakan fasilitas Internet Banking, SMS Banking, atau e-money , sementara monyet bahkan tidak bersedia menukarkan satu buah pisang yang digenggamnya dengan satu lembar uang seratus ribu rupiah. Sense of belonging atau rasa memiliki terhadap satu buah pisang antara manusia dengan monyet mungkin saja sama, namun kemampuan abstraksi berpikir membuat pertimbangan dalam mengambil keputusan antara monyet dan manusia menjadi berbeda. Bagaimana kaitannya dengan pengambilan keputusan dalam Pilkada?