Multi Dimensi Pendakian
Ide hebat harus dilaksanakan dengan hebat. Dulu, upacara-upacara dan tradisi daerah di beberapa wilayah Indonesia hanya diwacanakan oleh segelintir pemilik ide cemerlang. Dengan pengemasan multi dimensi, akhirnya bahkan mampu menjadi agenda n asional yang menarik minat Wisnus (wisatawan nusantara) dan Wisman (wisatawan manca negara). melibatkan elemen yang lebih luas[/one_fourth]
Terkait dengan gagasan pemancangan plank “Mejuah-juah” di Gunung Sibayak, jika saja para stakeholder mampu menyatukan pendapat mengenai pelaksanaannya, tentunya akan memiliki makna dan manfaat yang lebih luas lagi. Gaungnya jangan hanya hiking/trekking saja yang dilakukan, tapi juga bisa melibatkan elemen yang lebih luas lagi. Misalnya, digelarnya tari-tarian seni dan budaya Karo di Sibayak, festival kuliner dan kerajinan khas lokal yang melibatkan para pengungsi Sinabung. Ini dimaksudkan agar semua lapisan masyarakat dapat mengambil manfaat dari kegiatan ini.
Siapa tahu dari ide yang kecil kita bisa menghasilkan perhelatan besar yang kelak harapan kita akan mampu menjadi tradisi dan ciri khas baru Taneh Karo seperti upacara sekatenan di Yogyakarta, dan banyak tradisi lain yang sudah terstruktur menjadi tradisi tahunan wilayah lain di Indonesia.
Bagaimana pun juga, Taneh Karo harus bangkit dari keterpurukan karena letusan Gunung Sinabung dan kembali tegak berlari mengejar ketertinggalan yang sudah beberapa tahun ini menimpa.
Gambar terlampir sekedar memotivasi saja, dimana kelompok kerja pembentukan Kabupaten Bekasi sebagai destinasi Wisata Industri. Saya, saat itu, sangat menentang pernyataan "tak ada y ang bisa dijual kepada wisatawan dari Kabupaten Bekasi". Nyatanya, setelah seluruh stakeholder bersama-sama tertantang untuk mewujudkan impian, terbentuklah Pokja (Kelompok Kerja) yang dibiayai oleh Anggaran Daerah setempat.