Nilai Sosial Dan Nilai Ekonomi: Karo Vs
Budaya ·
Oleh: Bastanta P. Sembiring (Medan) Rumah adat Batak[/caption] Beberapa waktu lalu kita membahas sedikit tentang Rumah Adat di rumpun Kebudayaan Austronesia, termasuk Karo, Minang, Melayu, Batak, dll. Demikian juga keterkaitannya dengan nilai-nilai kesopanan yang berkembang di masyarakatnya. Lalu, kemarin itu, Edi Sembiring mengunggah sebuah foto Rumah Adat Karo ke group facebook Jamburta Merga Silima (JMS) yang dikutip dari Koran Rotterdamsch Nieuwsblad bertanggal 04 Juli 1928. Beberapa akun turut mendiskusikan konstruksinya dari aspek bahan, namun pandangan saya bertumpu pada pertanyaan: “Apa nilai-nilai yang terkandung dalam pembangunan sebuah rumah adat terhadap masyarakatnya?”
Kemudian, saya kembali mengingat satu akun mengunggah foto yang berjudul “Sinamot Karo 2015” masih ke JMS, yang memuat tabel berisikan Beru Silima (Karo-karo, Tarigan, Ginting, Sembiring dan Peranginangin). Lengkap dengan harganya dalam satuan rupiah. Tentunya, ini menimbulkan pro dan konta.
Sebahagian mengganggap ini hanya sebuah meme untuk meramaikan, namun di lain pihak termasuk saya mengganggapnya sebuah penghinaan terhadap perempuan Karo dan budaya Karo. Karo tidak mengenal istilah sinamot (Batak). Tukur/ unjuken (Karo) prinsipnya sangat jauh berbeda dengan mahar dalam budaya lainnya ataupun sinamot dalam budaya Batak. Rumah adat Karo[/caption]