Pemetaan Suku Strategi Penjajah Di Sumatra (karo Bukan
Sebelum ke Tanah Batak, sesungguhnya telah didatangkan misionaris ke Tanah Mandailing namun ditolak keras oleh orang Mandailing. Bahkan misionaris tersebut dibunuh oleh penduduk. Selanjutnya Belanda mendatangkan lagi misionaris berikutnya. Kali ini, ditempatkan di daerah Silindung Tanah Batak. Nomensen awalnya juga ditolak. Menurut cerita, beliau pernah menderita sakit bernanah di sekujur tubuhnya dan pulang ke Eropah namun beliau tetap melanjutkan keinginannya untuk bisa mengkristenkan Orang Batak. Akhirnya berhasil. Inilah yang dijadikan tonggak awal masuknya Kristen ke Tanah Batak dan lahirnya HKBP. Nomensen merupakan Ephorus pertama HKBP disebut Ompui sampai sekarang. Aceh yang Islam telah lama ingin dikuasai Belanda namun selalu mendapat perlawan ankeras dari rakyat Aceh. Mereka bahu membahu melawan penjajahan Belanda. Demikian juga di Sumatera Barat. Bukankah perlawanan Imam Bonjol yang dikenal dengan Perang Paderi itu sebagai bentuk perlawanan rakyat Minangkabau untuk mengusir penjajah dan penegakan kemurnian Islam di Minangkabau? Perang Paderi yang begitu besar pernah membunuh ribuan orang Suku Batak dan yang masih hidup berlarian ke daerah-daerah pegunungan Tanah Batak.
Di Tanah Karo, Belanda membawa misionaris Kristen dan menempatkannya di Buluh Awar Kecamatan Sibolangit yang masuk Kabupaten Deliserdang sekarang ini. Tahun datangnya missionari pertama ke Tanah Karo ini (1890) diperingati sebagai tahun “tibanya Kabar Gembira ke Tanah Karo” (Sehna berita Simeriah ku Taneh Karo ) yang sekarang ini agak-agak dipaksakan sebagai hari lahir GBKP padahal nama GBKP sendiri baru muncul di Sidang Sinodenya yang pertama tahun 1941 di Sibolangit. Terjadi perubahan nama dari sebelumnya Gereja Karo karena Belanda telah dikuasai Jerman di Perang Dunia II dan Gereja Karo diserahkan ke HKBP yang gereja Batak. Di atas tadi ada saya jelaskan tentang Perang Sunggal, perang yang cukup lama sebagai perlawanan rakyat Melayu dan Karo kepada Belanda namun Belanda menyebutnya Perang Batak/ Batak Orlog. Inilah taktik licik Belanda dengan devide et impera , pecah belah dan kuasai. Belanda membesar-besarkan kejelekan Suku Batak sebagai suku tak beradab, primitif, perampok, kanibal terhadap suku Melayu sehingga antara Suku Melayu yang Islam mengganggap orang Batak adalah suku yang harus dijauhi dan dibenci, musuh bagi Melayu. Siapa pun yang tidak Islam disebutnya sebagai Batak. Di sisi lain, orang yang disebutnya Batak dikenalkannya agama Kristen sehingga kemudian semkin mudah menambah gap dengan mempertentangkan antara Melayu yang Islam dengan Batak yang Kristen dan masih Kepercayaan lama.
Cara ini dilakukannya dengan maksud dan tujuan agar perlawanan terhadap Belanda menjadi lemah.