Perjalanan Ke Batu Manuppak (kabupaten Toba
Penjelajahan Batu Manuppak merupakan rekomendasi dari dosen saya untuk penelitian ekowisata di KPHL Tobasa. Saya Berangkat dari Kantor KPHL Aek Natolu menggunakan bus KBT dan Turun di Simpang Silimbat. Di sana seorang Polhut (Polisi Hutan) telah menunggu untuk mengantarkan saya menuju Desa Batu Manuppak. Waktu tempuh menuju Batu Manuppak dari Silimbat adalah 2 jam melewati jalan aspal kecil dan pemandangan Danau Toba. Memanjat tebing dengan menggunakan akar gantung.[/caption] Sesampainya di Batu Manuppak, saya diterima oleh seorang warga bermarga Simangunsong untuk menginap di rumahnya. Kami pun bercerita sambil meminum beberapa gelas tuak dengan warga sekitar di lapo tuak miliknya. Seorang pemuda bersedia menemani saya mengeksplorasi bukit tersebut. Warga Batu Manuppak adalah warga yang ramah dan mereka menceritakan sejarah Batu Manuppak. Namun, bukan sejarahnya yang akan kita bahas di sini. Pukul 10.00 Wib keesokan harinya, kami berangkat dari kampung membawa bekal dan peralatan untuk penelitian. Di awal perjalanan akan terlihat kolam-kolam ikan, sawah dan ladang warga. Umumnya masyarakat di sini menanam kopi dan andaliman (sejenis tuba tapi khas Batak) mereka juga sering pergi ke hutan untuk memanen getah pohon kemenyan.
Di pertengahan jalan. kami harus memanjat akar pohon beringin yang tumbuh di pepohonan agar dapat mencapai batu. Nama, tempat tersebut kami namakan “tirai akar”. Pemandangan ke Danau Toba dari puncak bukit.[/caption] Setelah melewati tirai akar kami melewati pandan hutan yang menghalangi perjalanan karena duri yang tajam. Kami harus berpegangan pada akar dan batang yang bisa saja patah. Dalam pendakian kami menghadapi rute yang sulit karena harus memanjat tebing batu yang lembab, terjal dan licin. Kadang kami harus berpegangan pada batu.